PENGUMUMAN TENTANG PENERIMAAN PENYULUH PERIKANAN TENAGA KONTRAK (PPTK) KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN, BADAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PUSAT PENGEMBANGAN PENYULUHAN TAHUN 2010

02/02/2010 – Kategori : Info Lulusan dan Lowongan Kerja

PENGUMUMAN
Nomor :B. /BPSDMKP.04/TU.210/I/2010

TENTANG
PENERIMAAN PENYULUH PERIKANAN TENAGA KONTRAK (PPTK)
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
PUSAT PENGEMBANGAN PENYULUHAN
TAHUN 2010

Dalam rangka mewujudkan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk Menjadikan Indonesia Sebagai Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Tahun 2015, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara efisien dan berkesinambungan demi kesejahteraan bangsa Indonesia. Sumber daya manusia yang handal dan professional merupakan modal dasar bagi pembangunan kelautan dan perikanan.

Mencermati visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menjabarkan peningkatan target kuantitatif secara terukur; disamping itu, rincian lanjut berupa sasaran strategis Pusat Pengembangan Penyuluhan KP menjelaskan hal-hal yang harus dicapai, yaitu: Seluruh kawasan potensi perikanan menjadi kawasan MINAPOLITAN dengan usaha yang bankable. Dalam kerangka mewujudkan sasaran strategis dimaksud, maka ditetapkan dua indikator kinerja yang harus diwujudkan oleh Pusat Pengembangan Penyuluhan KP, yaitu:

1. Peningkatan persentase kelompok dengan usaha yang bankable (akses dengan bank);
2. Peningkatan persentase materi penyuluhan menjangkau kawasan minapolitan oleh penyuluh.

Pada tataran penjabaran target keberhasilan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang mencantumkan angka peningkatan produksi perikanan budidaya sebesar 353%; maka tidak ada jalan lain, kecuali menggerakkan seluruh potensi sumber daya manusia kelautan dan perikanan secara bersama melangkah dan menyatukan persepsi. Langkah terobosan yang telah dilakukan Pusat Pengembangan Penyuluhan KP selama beberapa tahun ini adalah merekrut lulusan D III atau D IV atau S1 bidang perikanan, sebagai Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK). Sepanjang tahun 2009, sejumlah lulusan D IV atau S1 bidang perikanan, telah memberikan waktunya mendukung program kelautan dan perikanan sebagai PPTK dengan menandatangani kontrak kerja sebagaimana tercantum dalam surat Keputusan Kepala Pusat Pengembangan Penyuluhan BPSDMKP Nomor SK.001/BPSDMKP.4/KP.350/ 1/2009 dan Nomor SK.003/BPSDMKP.04/TU.210/I/2009; yang menyatakan bahwa seluruh PPTK yang melakukan kontrak kerja pada tahun 2009 telah berakhir masa kontraknya tanggal 31 Desember 2009.

Pada tahun 2010, Pusat Pengembangan Penyuluhan, Badan Pengembangan SDM KP membuka Penerimaan Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak dengan penajaman persyaratan, sehingga memberi keyakinan bahwa PPTK tahun 2010 yang memenuhi persyaratan akan menjadi dinamisator dan penggerak utama yang mampu meningkatkan Pengembangan Penyuluhan dalam mewujudkan dua indikator kinerja tersebut di atas.

Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 harus memenuhi persyaratan dan mengirimkan surat lamaran sesuai dengan petunjuk teknis tentang Penerimaan Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 (terlampir) dan paling lambat sudah diterima oleh panitia di Pusat Pengembangan Penyuluhan tanggal 6 Februari 2010 baik melalui pos ataupun email.

Jakarta, Januari 2010
Pusat Pengembangan Penyuluhan

informasi lebih lanjut : kunjungi www.dkp.go.id

Oleh: ikanbijak | Januari 31, 2016

Menikmati Wisata Bahari di Pulau Umang

Dermaga Pulau Umang

dermaga Pulau Umang

Umang atau kumang adalah binatang laut yang sering dijadikan mainan oleh anak-anak dengan cat berwarna-warni. Bentuk bangunan yang bulat di Pulau Umang adalah penggambaran atas nama Pulau Umang, salah satu pulau kecil di ujung tanah Jawa, tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kini, pulau kecil ini disulap menjadi objek wisata yang sudah menasional, yang dicerminkan tiap weekend banyak dikunjungi wisatawan, khususnya mereka yang tinggal di seputaran jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Pukul 09.00 WIB kami tiba di dermaga penyeberangan Pantai Sumur-Pulau Umang, dimana kami melaporkan terlebih dahulu kepada petugas darat untuk berkunjung ke Pulau Umang. Biayanya cukup murah, yaitu Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) per trip (bolak-balik) dengan mendapatkan fasilitas wellcome drink. Perahu bergerak lambat, karena memang tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebrang. Saat itu, matahari matahari bersinar terik, tanpa ada kumpulan awan yang coba menghalanginya. Tentu saja, ini memasuki bulan Agustus yang biasanya langit jarang menurunkan hujan alias musim kemarau, sehingga ditemukan kumpulan awan tipis dengan latar belakang hamparan langit biru.

Karena bulan Agustus mulai berhembus angin selatan, maka angin berhembus kuat dan menciptakan arus laut yang mampu mengombang-ambingkan perahu sampan yang kami tumpangi. Namun sebagai anak pantai, kami sekeluarga sudah terbiasa, dan tidak perlu takut, kecuali musim barat yang terjadi pada bulan November-Februari, yang angin serta ombaknya mampu menenggelamkan kapal.

Tidak lebih dari 20 menit, kami berhasil menginjakkan kaki di Pulau Umang. Ketika menginjakkan kaki di dermaga pulau ini, terlihat para wisatawan sedang berenang di kolam renang yang terdapat di depan bangunan berbentuk kumang berwarna putih, salah satu ikon pulau ini. Pola bangunan cottage di Pulau Umang tersebar mengelilingi pinggiran pulau, dimana diantara bangunan cottage tersebut terdapat bangunan kecil beratapkan ijuk sebagai sarana berteduh untuk menikmati keindahan pulau.

Dengan luasan yang hanya 5 hektar, pengunjung tidak memerlukan waktu lama untuk berkeliling. Bagi mereka yang tidak tahan panas, pengelola membuatkan jogging track yang mengeliling pulau yang dinaungi pepohonan vegetasi pantai, sehingga suanana teduh dan nyaman melupakan perjalanan berkeliling pulau.

Menjelang waktu magrib, disinilah lokasi terbaik untuk menikmati detik-detik matahari tenggelam (sunset), dimana matahari lenyap ditelah laut yang meninggalkan warna orange di ufuk barat, yang beberapa menit kemudian menghasilkan warna biru yang sangat indah (blue hour). Disinilah momen terbaik bagi para fotografer untuk mengabadikan fenomena alam yang jamak terjadi. Sementara itu, tidak jauh dari Pulau Umang terdapat Pulau Oar yang menjadi lokasi favorit untuk berenang dan snorkeling, serta menikmati fasilitas wisata banana boat berkeliling pulau.

Hamparan PAsir Pulau Oar

Oleh: ikanbijak | Januari 30, 2016

Mau Jadi Penulis, Harus Banyak Membaca

IMG_6127Sadarkah kita, pada dasarnya kita adalah penulis ? Betapa tidak, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) atau bahkan Taman Kanak-Kanak (TK), kita telah dikenalkan dunia tulis-menulis. Oleh karenanya, tidak ada alasan kalau kita tidak bisa menulis. Namun demikian, meski kegiatan tulis-menulis sudah dikenalkan sejak dini, selalu saja ada keluhan bahwa ”menulis itu susah”.

Ironisnya, keluh-kesah seperti itu terlontar juga dari seorang mahasiswa pascasarjana, yang notabene telah berkecimpung dengan dunia tulis-menulis (baca: pendidikan) selama 16 tahun lebih (SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 sekitar 4 tahun). Keluh-kesah tersebut terlontar ketika mereka melihat beberapa tulisan saya yang dimuat di beberapa media cetak, khususnya koran Pikiran Rakyat. Pertanyaan mereka waktu itu, ”Kok bisa sih tulisannya dimuat Pikiran Rakyat, bagaimana caranya?” Sejak saat itulah saya didaulat untuk mengajarkan penulisan artikel opini di lingkungan mahasiswa pascasarjana, khususnya teman-teman sekelas. Benarkah menulis itu susah?

Memang, bagi penulis pemula, menulis itu ”gampang-gampang susah”. Dikatakan gampang, karena kita selalu melakukan aktivitas menulis sebagaimana yang saya paparkan diatas. Sewaktu SD, sebagian diantara kita adalah penulis catatan harian (diary), puisi dan lain sebagainya. Begitu juga ketika di SMP-SMA, beberapa diantara kita adalah penulis Majalah Dinding (Mading), tugas-tugas laporan hingga karya ilmiah. Sementara dikatakan susah, penulis pemula akan dihadapkan pada bagaimana susahnya menuliskan kalimat pertama. Lebih dari itu, ketika sedang enak-enaknya menulis, ditengah jalan dihadapkan pada writer block, dimana penulis mengalami kebuntuan mau menulis apa lagi.

Namun demikian, menjadi penulis banyak sekali manfaatnya, yang oleh penulis jadikan sebagai motivasi untuk terus menulis. Motivasi inilah yang akan menjadi penyemangat dikala kita dihadapkan pada berbagai belenggu menulis. Adapun beberapa motivasi saya menjadi penulis diantaranya yaitu: menambah pengetahuan, berbagi informasi, ungkapan peraan hati dan pikiran, melatih pola pikir lebih sistematis, sumber pendapatan, dan popularitas.

 

Menambah Pengetahuan (Knowledge)

Ketika saya akan memulai menjadi penulis, guru saya langsung bertanya, sudah berapa buku yang kamu baca? Awalnya saya bingung, apakah ada hubungan antara menulis dan membaca. Setelah itu beliau langsung meminjamkan beberapa bukunya dalam rangka meningkatkan tabungan kosakata saya. Hal ini dikarenakan, menulis adalah saudara kandung membaca, sehingga seorang penulis senantiasa akan selalu membutuhkan bahan bacaan atau literatur. Dalam menjawab rasa penasaran dan permasalahan, tentu dibutuhkan sumber bacaan. Interaksi dengan bahan bacaan inilah yang akan menambah pengetahuan seorang penulis. Lebih dari itu, banyaknya kosakata yang dimiliki oleh seseorang akan mempengaruhi kualitas suatu tulisan. Untuk memperkaya pengetahuan, sekarang penerbit berkualitas, salah satunya www.StilettoBook.com, yang merupakan Penerbit Buku Perempuan.

 

Berbagi Informasi (Sharing)

Ketika saya mengikuti pelatihan menulis, tiba-tiba keluar penyataan yang menggelitik, disebutkan bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang tanpa dibagikan kepada orang lain, khususnya melalui sebuah tulisan adalah ”mansturbasi intelektual”. Artinya, pengetahuan tersebut hanya dinikmati sendirian atau dirinyalah yang tahu. Oleh karena itu, dalam rangka berbagi informasi itulah saya mendeklarasikan diri, bahwa saya harus menjadi penulis, karena dengan tulisanlah saya bisa berbagi ilmu pengetahuan dengan masyarakat luas.

 

Ungkapan Perasaan Hati dan Pikiran (Self Expression)

Menulis adalah kegiatan mencurahkan perasaan atau pikiran, sehingga dapat dikatakan bahwa menulis adalah proses melepaskan unek-unek yang mengendap dalam hati atau pikiran kita. Setidaknya itulah yang saya rasakan, ketika masih aktif di beberapa organisasi kampus, saya diposisikan sebagai pembuat pamflet dan opini publik yang disebar ketika aksi demonstrasi berlangsung. Kepuasaan saya waktu itu adalah, tersampaikannya perasaan dan pikiran dalam memperjuangkan hak-hak yang terabaikan.

 

Melatih Pola Pikir Lebih Sistematis

Pernahkah kalian dipusingkan oleh narasumber atau pembicara pada suatu seminar yang kalimatnya loncat-loncat atau susah untuk dipahami ? Kalau pernah, berarti kalian berhadapan dengan salah seorang bukan penulis. Mengingat, penulis yang baik, bahasa dan pola pikirnya akan tertata secara sistematis. Pola pikir sistematis akan terlatih dalam proses menulis. Hal ini dikarenakan, ketika kita menulis, kita memiliki kesempatan mengedit tulisan yang loncat-loncat atau berantakan menjadi tulisan yang mudah dipahami.

 

Sumber Pendapatan (income)

Dibandingkan dengan profesi lainnya, penulis belum dianggap sebagai profesi yang menjanjikan. Hal ini dikarenakan, seorang penulis tidak bisa meraup uang banyak dalam jangka waktu yang singkat. Selain itu, kurangnya minat menjadi penulis disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap profesi ini. Namun demikian, seiring dengan bermunculannya penulis yang kaya mendadak seperti Andrea Hirata dan Habiburahman El Shirazy, kelas-kelas atau sekolah-sekolah menulis di berbagai daerah semakin dipenuhi oleh calon penulis.

Sementara itu, honor tulisan dari media cetak tidak bisa dinafikan. Hal ini dikarenakan, honor menulis di media cetak mampu membantu saya lulus sarjana (S1) dan magister (S2). Bisa dibayangkan, apabila satu artikel opini dihargai Rp 250.000 – Rp 300.000, maka dalam satu bulan dimuat 10 artikel, kita sudah mendapatkan Rp 2.500.000 – Rp 3.000.000. Setidaknya pengalaman itulah yang saya rasakan dari honor menulis di media cetak. Bahkan, apabila kita diminta menulis oleh salah satu redaktur karena ada momen tertentu, maka tidak jarang media cetak tersebut mengganjar kita dengan harga Rp 500.000 – Rp 1 juta untuk satu artikel. Enak bukan menjadi seorang penulis

 

Popularitas (Personal Branding)

Benarkah menulis mampu menjadikan seseorang menjadi populer ? Jawabannya iya, karena tulisan yang dimuat di media cetak merupakan media promosi diri atau membangun citra diri (self image). Dalam jangka panjang, mau tidak mau penulis tersebut akan semakin terkenal. Sebagai seorang penulis, keuntungan popularitas adalah akan mempermudah penerbitan karya-karyanya dikemudian hari. Bahkan, tidak jarang penerbit akan menyodorkan kontrak eksklusif. Goenawan Mohamad misalnya, tulisan ”Catatan Pinggirannya” selalu menghiasi kolom belakang pada Majalah Tempo.

Selain itu, popularitas akan memberikan keuntungan lanjutan bagi penulis dalam mendapatkan penghasilan tambahan. Hal ini diperoleh dari undangan menjadi narasumber pada sebuah seminar, pelatihan, konsultan, dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan keahliannya.

Motivasi yang telah dipaparkan diatas adalah yang saya alami, bagaimana dengan kalian ? Silahkan cari sendiri, motivasi apakah yang sekiranya menjadikan kalian sebagai penulis hebat. Mengingat, setiap pribadi memiliki cita-cita dan motivasinya sendiri-sendiri. Namun kunci utama menulis, adalah seberapa banyak kita telah membaca buku atau sumber bacaan lainnya. Marilah mulai dengan membaca, karena membaca adalah langkah awal untuk menjadi seorang penulis.

index

 

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2015

Menuju Generasi Pembeli Cerdas

Bencana asap yang melanda Pulau Sumatera dan sebagian Pulau Kalimantan beberapa bulan terakhir, tidak dapat dilepaskan dari budaya konsumen yang tidak peka terhadap lingkungan (baca: tidak cerdas). Hal ini dikarenakan tingginya permintaan terhadap minyak goreng, sehingga pelaku usaha kelapa sawit melakukan perluasan lahan secara masif. Betapa tidak, oknum pengusaha kelapa sawit yang sudah mendapatkan izin usaha, melakukaan pembukaan lahan dengan cara pembakaran hutan. Suatu cara yang mudah dan murah, bagi mereka yang “berotak” picik.

Dengan demikian, perlawanan terhadap bencana asap tidak hanya mengandalkan pemerintah dengan instrumen hukumnya, akan tetapi juga perlu pendekatan soft melalui pasar dari segenap warga Indonesia. Untuk itu, guna mewujudkan Indonesia bebas asap di masa yang akan datang, khususnya Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, maka kita harus kompak menjadi “pembeli cerdas”.

Dampak Keserakahan Sawit

Sawit merupakan salah satu primadona hasil perkebunan Indonesia. Tahun 2005 misalnya, Malaysia dan Indonesia ditetapkan sebagai produsen CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia. Hal ini sebagaimana laporan Oil World (2005), bahwa Indonesia dan Malaysia masing-masing memasok produksi kelapa sawit dunia sebesar 43 persen dan 44 persen. Namun demikian, mulai tahun 2006 hingga saat ini, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, kemudian disusul Malaysia di urutan kedua (Sagala dan Simangunson, 2011).

Oleh karenanya sangat wajar, bila Indonesia dalam siaga bencana asap sebagaimana dipaparkan di atas, terutama wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mengingat, produksi kelapa sawit Indonesia didominasi oleh kedua pulau tersebut. Pada tahun 2013, BPS melaporkan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 26.015.000,52 ton. Dari total produksi tersebut, Sumatera menempati urutan pertama dengan angka produksi mencapai 17.933.000,72 ton (68,93 persen) dan Kalimantan mencapai 7.320.000,37 ton (28,14 persen).   Jika digabung, maka kedua pulau tersebut menyumbang 97,07 persen produksi kelapa sawit Indonesia. Jadi, selama perkembangan perkebunan kelapa sawit tidak dikendalikan secara bijak, maka sampai kapanpun bencana asap akan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Bencana asap tahun ini disebut paling parah diantara tahun-tahun sebelumnya. Meskipun tidak diketahui berapa jumlah orang yang meninggal dan yang sakit, namun dapat dipastikan bagi warga yang terpapar asap berbulan-bulan mengakibatkan mereka terancam gangguan pernafasan dalam jangka panjang. Sungguh derita yang tidak termaafkan.

Sementara itu, Pulau Sumatera dan Kalimantan yang kaya akan keanekaragaman hayati, terancam kehilangan warisan yang tak ternilai. Sebut saja gajah Sumatera dan orang utan. Kedua hewan tersebut adalah binatang endemic yang sangat tak ternilai, yang akan menjadi korban berikutnya. Entah korban apalagi yang akan terjadi, bila bencana asap akibat keserekahan oknum pengusaha perkebunana kelapa sawit yang picik.

Menuju Konsumen Cerdas

Berdasarkan besarnya dampak yang ditimbulkan akibat usaha kelapa sawit yang merusak tersebut, maka sudah saatnya kita menjadi konsumen yang cerdas. Hal ini sebagai bentuk perlawanan pasar terhadap keserakahan dan kepicikan oknum pengusaha perkebunan kelapa sawit.

Salah satu upaya untuk menekan laju kerusakan yang ditimbulkan usaha perkebunan kelapa sawit, maka dicetuskankanlah Sustainable Palm Oil (SPO) yang disusun oleh pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit. Dalam SPO tersebut, ditetapkan prinsip dan kriteria yang akan dipersyaratkan penerapannya oleh perkebunan kelapa sawit yang mengekspor CPO. Para pemangku kepentingan membentuk organisasi yang khusus mengurus SPO, yang kemudian diberi nama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Adapun para pemangku kepentingan RSPO, yaitu: produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial. Melalui RSPO inilah nantinya para perusahaan perkebunan kelapa sawit harus mendapatkan sertifikasi kelayakan usaha mereka yang harus sesusai dengan prinsip dan kriteia yang tertuang dalam SPO.

Sebagai penutup, penulis mengajak segenap warga Indonesia untuk menjadi pembeli cerdas dengan cara membeli produk minyak goreng sawit yang memiliki logo RSPO. Untuk itu, ke depan, Pemerintah Indonesia harus bekerjasama dengan para pemangku kepentingan mengajak para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit melaksanakan prinsip dan kriteria yang tertuang dalam SPO. Selain itu, sosialisasi kepada konsumen harus dilakukan secara terus menerus sebagai bentuk kampanye perlawanan terhadap keserakahan perusahaan kelapa sawit. Akankah kita bebas bencana asap? Semoga.

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2015

Menampung Air

Masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil sangat menggantungkan dari air hujan, oleh karena itu diperlukan penyulingan air bersih, yang dananya bersumber dari pemerintah dan CSR

Menunggu air bersih dari hujan

Menunggu air bersih dari hujan

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2015

Bermain air kotor

Anak-anak di pinggiran Sungai Banjarmasin bermain air yang kotor, air yang tidak layak untuk bermain

anak-anak di pinggiran sungai banjarmasin

anak-anak di pinggiran sungai banjarmasin

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2015

Kekeringan

Pembukaan ekosistem mangrove menjadi lahan tambak tidak hanya merusak kawasan pesisir, tetapi juga berdampak pada kekeringan yang parah atau banjir yang meluap

Tambak yang mengring

Tambak yang mengring

Nelayan : antara Kemiskinan dan Ketidakberdayaan

Oleh : Akhmad Solihin

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB dan Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, alumni International Ocean Institute

Sebagai negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia, dimana dua pertiga wilayahnya adalah lautan, perairan yang berada di bawah kedaulatan dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) mengandung sumberdaya ikan dan lahan pembudidayaan ikan yang potensial untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi nasional serta dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya bagi kesejahteraan kehidupan nelayan-nelayan.

Namun demikian, kekayaan alam tersebut terkesan sebuah kutukan sumberdaya alam (natural resouce curse) bagi pelaku usaha di bidang perikanan, khususnya masyarakat nelayan. Menurut Fauzi (2005), natural resouce curse adalah fenomena dimana wilayah dengan sumberdaya alam yang melimpah justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang lamban yang pada akhirnya menyebabkan penduduknya hidup dalam kemiskinan.

Semakin panjang pantai, semakin banyak penduduk miskin di Indonesia. Artinya, dengan panjang pantai yang mencapai 95.181 km, yang merupakan garis pantai tropis terpanjang ke-4 di dunia, maka Indonesia akan banyak dihuni oleh penduduk miskin. Betapa tidak, selama ini wilayah pesisir dan pantai adalah kantung-kantung masyarakat miskin. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mubyarto (1984) yang mengungkapkan bahwa kemiskinan yang terjadi di masyarakat nelayan, khususnya yang berdomisili di daerah pesisir pantai (desa-desa pantai) lebih miskin jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya (the poorest of the poor community). Menurut data BPS dan SMERU, bahwa desa pesisir yang berjumlah 8.090 desa memiliki Poverty Headcount Index (PHI) sebesar 0,3214 atau 32,14%, yang berarti sekitar 32% dari populasi berada pada level di bawah garis kemiskinan. Permasalahan kemiskinan nelayan tercermin dari rendahnya tingkat pendapatan.

Untuk mengatasi kompleksitas permasalahan kemiskinan nelayan tersebut, baik secara langsung maupun tidak, pemerintah telah membuat berbagai kebijakan dan program, seperti Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah (PEMD) sektor Jaringan Pengaman Sosial-Penanggulangan Kemiskinan (JPS-PK), dan yang terakhir adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM-Mandiri). Namun dari program-program tersebut tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Kenapa demikian? apakah mereka tidak mampu melakukan transformasi diri menjadi nelayan yang tangguh atau karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengorganisasi mereka?

Kemiskinan Nelayan

Permasalahan perikanan, baik internasional maupun nasional terus berkembang pesat seiring dengan meningkatkan kebutuhan dunia terhadap pangan. Akibatnya adalah, dunia dihadapkan pada ancaman gejala tangkap lebih (overfishing). Hal ini sebagaimana yang paparkan FAO yang mengindikasikan telah terjadi gejala tangkap lebih (overfishing) pada skala internasional yang semakin meluas, yaitu 16% over exploited dan 44% fully exploited (Fontaubert and Lutchman, 2003). Bahkan, FAO (1998) melaporkan bahwa pada tahun 2010 kekurangan pasokan ikan mencapai 27,5 juta ton, dan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 62,4 juta ton (Wahyuni, et.al., 2007). Fenomena overfishing terjadi juga di Indonesia, dimana pada beberapa wilayah pengelolaan perikanan Indonesia telah menunjukan tanda merah.

Gejala overfishing juga terjadi di Indonesia, yang diperparah dengan masih maraknya praktik illegal fishing di Laut Teritorial dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Selain dihadapkan pada permasalahan ekologi, subsektor perikanan tangkap juga dihadapkan pada permasalahan ekonomi. Hal ini dibuktikan oleh pelaku utama perikanan, yaitu masyarakat nelayan yang masih terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan (vicious circle). Kemiskinan nelayan Indonesia dapat dilihat di sepanjang pesisir. Hal ini dikarenakan wilayah pesisir merupakan tempat atau kantung-kantung kemiskinan masyarakat nelayan. Upaya peningkatan kesejahteraan atau mengeluarkan nelayan dari jebakan kemiskinan tidaklah mudah. Sementara itu, nelayan juga dihadapkan pada permasalahan sosial, yaitu konflik horizontal antar nelayan. Berdasarkan paparan permasalahan di atas, subsektor perikanan tangkap dihadapkan pada kompleksitas permasalahan, baik secara ekologi, ekonomi maupun sosial.

Permasalahan kemiskinan nelayan mulai muncul seiring dengan kebijakan nasional tentang motorisasi perahu dan modernisasi peralatan tangkap pada awal tahun 70-an, yang dikenal dengan revolusi biru (blue revolution). Kebijakan modernisasi perikanan merupakan upaya sistematis pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dan petani tambak di kawasan pesisir.

Namun karena terlalu bertumpu pada peningkatan produktivitas guna menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional dan mengabaikan kondisi sosiologis masyarakat nelayan yang memiliki kekhasan karakteristik sosial-budaya dan sumberdaya, maka kebijakan tersebut tidak mampu mengatasi problem besar nelayan, seperti kemiskinan, ketertinggalan, ketertindasan dan keterasingan. Kebijakan tersebut diistilahkan oleh Sajogyo (1982) sebagai modernisasi tanpa pembangunan (modernization without development).

Seperti dengan yang diungkapkan Kusnadi (2003), kegagalan yang ditimbulkan oleh kebijakan modernisasi perikanan, diantaranya yaitu: Pertama, timbul konflik sosial antara nelayan yang menggunakan peralatan tangkap canggih, seperti trawl dan nelayan tradisional. Kedua, mekanisasi perahu dan modernisasi perlatan tangkap telah meningkatkan akselerasi kerusakan dan kelangkaan sumberdaya perikanan, khususnya di beberapa kawasan perairan yang menghadapi situasi tangkap lebih (overfishing). Ketiga, meningkatnya kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi dikalangan nelayan.

Selanjutnya, dari perspektif institusional, Kusnadi memandang ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab kekurangberhasilan program-program pemberdayaan tersebut, yaitu: (1) institusi baru yang dibangun tidak dikerangkai oleh institusi-institusi yang sudah ada lebih dulu, (2) institusi yang ada tidak menjadi basis pijakan untuk membangun institusi baru, (3) institusi baru dilahirkan bertujuan untuk diperhadapkan dengan institusi yang sudah ada, dan (4) institusi baru yang dibentuk lebih memberatkan kehidupan nelayan dari pada institusi yang sudah ada.

Pola Bagi Hasil

Sebagaimana dipaparkan di atas, kegagalan program dan kebijakan pengentasan kemiskinan nelayan selama ini adalah terlalu fokus pada bagian hulu dengan cara pemberian alat bantu penangkapan ikan dan kapal. Padahal, permasalahan yang terjadi pada bagian hilir tidak kalah mengkhawatirkan, seperti sistem pemasaran dan distribusi ikan serta ketidakadilan sistem bagi hasil perikanan.

Khusus untuk pola bagi hasil perikanan, Indonesia memiliki landasan hukum yang kuat, yaitu UU Nomor 16 Tahun 1964. Namun sejak disahkan, undang-undang ini tidak pernah diberlakukan. Padahal, pasal-pasal yang dimuat dalam UU Bagi Hasil Perikanan sangat mencerminkan keadilan. Untuk itu, dalam mengatasi permasalahan ketidakjelasan pelaksanaan bagi hasil perikanan, perlu terobosan baru dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan. Adapun terobosan tersebut, yaitu: Pertama, pembenahan sistem bagi hasil berdasarkan saham. Contoh kesuksesan nelayan yang menggunakan pola ini adalah nelayan Bendar di Kabupaten Pati. Dalam sistem ini, semua anak buah kapal (ABK) memiliki saham yang besarannya ditetapkan oleh pemilik kapal. Pembayaran saham dibayar pada setiap trip melaut, sehingga pada rentang waktu yang ditetapkan, maka aset kapal ikan dan alat tangkap menjadi milik bersama. Hal inilah yang menjadi pengungkit rasa saling memiliki dan membangun kejujuran dikalangan ABK.

Kedua, pembenahan sistem bagi hasil berdasarkan break event point (BEP). Pola ini ditetapkan berdasarkan umur teknis kapal ikan, sehingga setelah kapal dianggap balik modal, maka jumlah pembagian untuk nelayan diberikan lebih banyak.

Sebagai penutup, kemiskinan nelayan tidak harus didekati dengan cara pembenahan di hulu, akan tetapi harus juga memperhatikan bagian hilir, yaitu pembenahan sistem bagi hasil yang berkeadilan. Mengingat, sistem bagi hasil perikanan yang dilakukan dengan sistem tradisional sangat tidak adil dan merugikan nelayan, karena komponen biaya produksi dibayar oleh para nelayan. Untuk itu, pemerintah harus melakukan revisi terhadap UU No. 16 Tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan. Akankah nasib nelayan semakin membaik? Hal ini sebagai jaminan dalam memperjuangkan nelayan sebagai tulang punggung pangan dan gizi bangsa Indonesia.

twitter daihatsuvivalogdaihatsu fbbukti

Hari itu hari Senin, tepat pada tanggal 17 Agustus 2015, hari dimana seluruh rakyat Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-70. Karena pada hari itu juga, saya bermaksud menyaksikan detik-detik pengibaran sang saka Merah Putih di Pulau Sebatik, salah satu pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Malaysia, baik batas darat maupun batas laut.

Pukul 07.00 WITA, saya meninggalkan salah hotel di kota Nunukan menuju Pelabuhan Sei Jepun, salah satu pelabuhan penyeberangan antar pulau di Kabupaten Nunukan. Mengingat, semua hotel yang ada di Pulau Sebatik sudah dipenuhi tamu-tamu yang akan mengikuti upacara 17 Agustus, baik tamu dari Pusat maupun dari Kabupaten Nunukan itu sendiri. Perahu tradisional bermesin 20 PK bergerak perlahan meninggalkan Pelabuhan Sei Jepun menuju Pelabuhan Mantikas di Desa Binalawan-Pulau Sebatik, karena jaraknya cukup dekat, perjalanan lautpun hanya menyita waktu sekitar 20 menit. Sebagai informasi, untuk jasa penyeberangan publik cukup merogoh kocek sebesar Rp 20.000 per orang, dan bagi yang buru-buru bisa sewa perahu tersebut dengan harga Rp 150.000 per kapal.

Pintu Masuk Pulau Sebatik

Pintu Masuk Pulau Sebatik

Bendera merah putih berkibar di dermaga kayu Pelabuhan Mantikas yang menjadi pintu masuk Pulau Sebatik. Kanan-kiri dermaga berjejer rumah-rumah panggung khas Sulawesi Selatan. Mengingat, penduduk pulau ini didominasi oleh suku-suku dari Sulawesi Selatan, yang sudah menetap secara turun-temurun. Bahkan, Pulau Sebatik pertama kali dibuka oleh suku-suku dari Provinsi Sulawesi Selatan.

Setiba di ujung dermaga kayu Pelabuhan Mantikas, saya disambut antrian kendaraan yang siap mengantar ke Sungai Nyamuk yang menjadi pusat kota Pulau Sebatik dengan ongkos hanya Rp 50.000 per orang, namun bila sewa kendaraan biayanya sebesar Rp 200.000 sekali antar. Perjalanan kali ini berbeda dengan yang saya rasakan 5 tahun sebelumnya, kini jalanan sudah bagus, meski terdapat kerusakan di beberapa titik. Dulu, dengan kondisi jalan yang sangat rusak parah, rute perjalanan darat Mantikas – Sungai Nyamuk membutuhkan waktunya setidaknya 2 jam. Namun sekarang, dengan kondisi yang sudah membaik, cukup membutuhkan waktu hanya 1 jam. Perkembangan tidak hanya terjadi pada infrastruktur jalan, akan tetapi juga perekonomian masyarakat pulau, dimana sepanjang perjalanan akan banyak ditemukan perkebunan sawit yang mengisi lahan-lahan di perbukitan Pulau Sebatik.

Upacara di Perbatasan

Sebelum upacara dimulai, saya sudah sampai di Sungai Nyamuk sehingga sempat mengabadikan peserta upacara memasuki lapangan, mulai dari barisan para tentara penjaga perbatasan, pegawai negeri sipil hingga para pelajar. Selain barisan resmi peserta upacara, warga yang sejak pagi berduyun-duyun mendatangi lokasi upacara hampir memenuhi kanan-kiri lapangan upacara. “upacara kali ini cukup ramai, karena banyak dihadiri dari pusat”, tutur salah satu tentara yang bertugas menjaga keamanan pelaksanaan Upacara. Keriuhan warga ini menunjukan bahwa perayaan kemerdekaan adalah milik bersama.

Sementara itu, derap langkah pasukan pengibar bendera yang menyisakan debu-debu di musim kemarau, bergerak dengan penuh percaya diri memasuki tengah lapangan. Tanpa kendala apapun, sang saka berhasil dikibarkan dengan tiupan angin yang cukup kencang. Sehingga kibaran bendera merah putih seakan-akan senantiasa akan berkibar di perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah upacara berakhir, acara-acara hiburan telah siap diikuti oleh ratusan pengunjung, mulai panjat pinang, tarik tambang, dan lain sebagainya.

Pengibaran Bendera Merah Putih

Pengibaran Bendera Merah Putih

 

Tapal Batas

Setelah menyaksikan suka cita warga di perbatasan, saya pun mengunjungi tapal batas, yaitu tapal 2 dan tapal 3. Untuk menuju tapal 2, kita akan menaiki perbukitan daratan Pulau Sebatik yang memiliki batas darat dengan Malaysia. Mengingat, Pulau Sebatik adalah satu daratan dengan dua negara. Dari tapal 2 ini, saya melihat kepulan asap pabrik pengolah kelapa sawit. “meski berada di daratan yang sama, warna negara Indonesia tidak bisa menjual kelapa sawit ke perusahaan pengolah minyak tersebut”, papar Aziz yang bertugas sebagai penyuluh perikanan. Hal ini dikarenakan, kelapa-kelapa sawit yang dihasilkan petani Indonesia tidak memiliki sertifikat orisinalitas bibit. Oleh karena itu, sawit-sawit dari Pulau Sebatik dibawa ke Tawau – Malaysia lewat laut. Entah kebijakan apa yang memungkinkan pengusaha Tawau menerima hasil kebuh sawit kita.

Matahari semakin bergerak kearah barat, dan kami bergegas menuju tapal 3 yang disana terdapat Pos TNI yang rutin dijaga oleh pasukan TNI AD secara bergiliran 6-7 bulan. Lokasi tapal 3 berada di Desa Aji Kuning, dimana banyak rumah penduduk berada di 2 wilayah kedaulatan kedua negara. Dimana teras atau beranda depan berada di wilayah NKRI, dan dapurnya berada di wilayah Malaysia. Namun hal ini tidan meniumbulkan konflik. Tidak jauh dari tapal 3 ini terdapat dermaga kayu yang sangat sederhana, dimana sering digunakan oleh penduduk Indonesia dan Malaysia untuk keluar-masuk dari dan ke Sebatik menuju Tawau. Aktivitas ini bisa kita temukan pada saat sore hari, karena air sedang pasang. Mengingat transportasi melalui alur sungai kecil yang hanya dilalui pada saat air sedang pasang

Pos Penjaga TNI AD

Pos Penjaga TNI AD

Nelayan bagan perbatasan

Sebelum pulang saya mampir terlebih dahulu ke salah satu basis nelayan bagan di Desa Tanjung Karang. Nelayan bagan ini melakukan penangkapan ikan di sekitar Karang Unarang yang menjadi titik pangkal batas wilayah NKRI-Malaysia. Salah satu komoditas penting di desa ini adalah ikan teri, yang dikenal dengan sebutan teri Ambalat. Karena bagan-bagan nelayan kita terpasang mulai dari Karang Unarang hingga perairan Ambalat. Keberadaan nelayan bagan di perbatasan ini pernah dijadikan komoditas politik, untuk menutup ruang gerak kapal-kapal patroli aparat Malaysia. Oleh karenanya, tidak sedikit nelayan bagan tersebut kerap didatangi bahkan dipukuli aparat Malaysia. Namun setelah beberapa pasukan penjaga perbatasan Indonesia ditempatkan di pulau ini, kejadian tersebut sudah tidak terulang lagi.

Nelayan-nelayan bagan berangkat pukul 16.00 WITA, dimana satu bagan hanya dioperasikan oleh 2 orang nelayan. Mereka diantarkan oleh perahu yang sudah bekerjasama dengan para nelayan untuk antar jemput. Selama mengikuti perjalanan mengantarkan nelayan ke bagannya masing-masing, perjuangan mereka sungguh sangat luar biasa. Memanggul perlengkapan yang berat dari perahu hingga ke atas bagan. Tanpa ada satu pun yang mengalami kecelakaan terjun bebas ke laut. Bagi kalian yang ingin merasakan enaknya teri ambalat yang sudah kering dalam kondisi terbelah dua, cukup merogoh kocek sebesar Rp 70.000 – 80.000 per kg.

Setelah berpuas diri menyaksikan aktivitas nelayan bagan diperbatasan, saya pun bergegas meninggalkan kampung nelayan tersebut menuju Pelabuhan Mantikas. Namun sebelumnya, saya menyaksikan kehidupan rumah-rumah panggung yang sangat sederhana di Desa Tanjung Karang. Anak-anak nelayan berlarian tanpa ada rasa takut nyemplung ke bawah, sementara ibu-ibu sibuk membersihkan ikan teri olahan.

nelayan bagan sebatik

nelayan bagan sebatik

menaiki bagan

Oleh: ikanbijak | Agustus 21, 2015

Halal Bihalal: Penghubung Komunikasi Keluarga

Halal Bihalal: Penghubung Komunikasi Keluarga

Sadar atau tidak, semakin panjang rentang generasi keluarga, maka akan semakin banyak sanak famili yang akan kita lupakan. Mengingat, umumnya komunikasi keluarga yang akan terjaga kuat hanya 3 generasi, dari kakek hingga cucunya. Akibatnya, tidak sedikit antar keluarga besar yang jauh tidak saling kenal. Padahal selama itu mereka akan saling berinteraksi, baik di dunia kerja maupun dunia sepermainan.

Setidaknya itulah pengalaman yang saya alami, dan saudara lainnya. Sudah 3 tahun berinteraksi dengan salah satu mahasiswaku, ternyata dia adalah saudara sepupu. Kami terlahir dari generasi kelima, yang sama sekali tidak saling kenal. Hal inilah yang melatarbelakangiku untuk menggagas pertemuan keluarga besar hingga 7 generasi. Dan mimpi itupun bersambut, semua keluarga menyambut gembira halal bihalal yang selama ini tidak pernah dilakukan.

Menjelang bulan yang penuh berkah Ramadhan meninggalkan umat Islam yang senantiasa akan merindukannya, beberapa orang membentuk panitia kecil untuk menyusun daftar keluarga hingga alamat serta nomor teleponnya. Perjuangan dalam waktu singkat tersebut, cukuo menguras tenaga namun dikerjakan dengan penuh suka cita, karena kami akan bertemu dalam sebuah ikatan keluarga besar yang terputus dan terkota-kotak.

Akhirnya, tepat pada hari ke-3 Bulan Syawal, atau yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2015, panitia kecil mampu mengumpulkan keluarga besar yang jumlahnya diluar perkiraan kami. Setidaknya 400 orang berkumpul, tumpah ruah dalam semangat kemenangan. Kemenangan tidak hanya melawan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan, akan tetapi juga kemenangan mengumpulkan keluarga besar yang utuh, tanpa sekat dan merajut ikatan yang sudah lama tercerai-berai.

Menurutku, lebaran kali ini adalah yang paling berkesan. Karena bertemu dengan keluarga besar, dan mendata secara utuh, buku keluarga yang disusun bapakku yang tak kunjung “rampung” karena informasi yang tidak lengkap. Dengan kata lain, lebaran kali ini bukan hanya mengumpulkan keluarga, tapi kami pun menyusun program keluarga yang saling bantu, seperti beasiswa bagi anak yang berprestasi dan kurang mampu, bantuan bagi keluarga yang akan menikah dan kena musibah.

Akhir kata, halal bilahal pertama lebaran tahun ini bukan yang terakhir, namun suatu langkah awal untuk membangun keluarga yang penuh keberkahan.

Oleh: ikanbijak | Agustus 4, 2015

Nawacita dan Keberpihakan BNI untuk Negeri Bahari

Untaian nusa yang membentang dari Utara (Pulau Miangas) hingga Selatan (Pulau Rote), serta dari Barat (Sabang) hingga Timur (Merauke) menjadikan Indonesia sebagai Negari Bahari yang sangat besar. Potensi sumberdaya alam, baik hayati maupun non-hayati bersemayam dalam perut bumi ibu pertiwi. Namun demikian, kebesaran nusantara tersebut telah terpinggirkan sejak zaman penjajahan. Menjadikan Indonesia sebagai Negeri Bahari yang tercabut dari jati dirinya.

Oleh karenanya sangat wajar, jika Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengusung program Sembilan yang dikenal dengan nawacita, suatu program yang dicanangkan sejak pencalonan pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2015-2019. Nawacita yang semula menjadi mimpi pasangan Jokowi-JK, kini telah menjelma menjadi program nyata Pemerintahan Indonesia.

Sementara itu, jauh sebelum nawacita dicetuskan, Bank Negara Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Bank BNI, telah lama menghadirkan eksistensinya sebagai perbankan yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang terpinggirkan, salah satunya adalah Kampoeng BNI Perikanan Muara Angke yang diresmikan pada tahun 2012. Program tersebut ibarat oase di padang pasir. Betapa tidak, ketika perbankan alergi dengan masyarakat perikanan yang dianggap kaum pengemplang kredit, BNI malah menghadirkan diri di tengah lingkungan komunitas marjinal tersebut.

Memahami Nawacita

Nawa Cita atau Nawacita merupakan istilah yang diserap dari bahasa Sanskerta, nawa artinya Sembilan dan cita artinya harapan, agenda, keinginan. Sebagaimana disebutkan di atas, Nawacita merupakan visi-misi yang dipakai oleh pasangan calon presiden/calon wakil presiden Jokow-JK berisi agenda pemerintahan pasangan pada Pemilihan Presiden 2014. Dalam visi-misi tersebut dipaparkan sembilan agenda pokok untuk melanjutkan semangat perjuangan dan cita-cita Presiden Soekarno yang dikenal dengan istilah Trisakti, yakni berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Secara lebih rinci, berikut nawacita yang dikutip pada laman website, Komisi Pemilihan Umum (KPU), yaitu:

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
  2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
  9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.

Berdasarkan uraian nawacita di atas, program Kampoeng BNI Perikanan Muara Angke sesuai dengan program ketiga Nawacita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Padahal, program Kampoeng BNI Perikanan Muara Angke tersebut jauh dihadirkan BNI sebelum Jokowi-JK terpilih. Dengan kata lain, program Kampoeng BNI Perikanan Muara Angke merupakan suatu kepedulian yang sangat visioner.

Membangun Keberdayaan Nelayan

Besarnya potensi sumberdaya perikanan Indonesia belum mampu mensejahterakan dan memakmurkan rakyat Indonesia. Lebih parahnya, kekayaan alam tersebut terkesan sebuah kutukan sumberdaya alam (natural resouce curse) bagi pelaku usaha di bidang perikanan, khususnya masyarakat nelayan. Menurut Fauzi (2005), natural resouce curse adalah fenomena dimana wilayah dengan sumberdaya alam yang melimpah justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang lamban yang pada akhirnya menyebabkan penduduknya hidup dalam kemiskinan. Bahkan, Mubyarto, et.al (1984) menyebutkan bahwa masyarakat nelayan Indonesia adalah masyarakat termiskin dari kelompok masyarakat miskin lainnnya (the poorest of the poor).

Fakta yang dipaparkan BPS dan SMERU dapat memperkuat pernyataan natural resouce curse. Pada tahun 2002, BPS dan SMERU memaparkan risetnya bahwa desa pesisir yang berjumlah 8.090 desa memiliki Poverty Headcount Index (PHI) sebesar 0,3214 atau 32,14%. Dengan demikian, masyarakat pesisir Indonesia termasuk di dalamnya adalah masyarakat nelayan yang berjumlah 4.015.320 jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan (DKP, 2008). Dengan kata lain, semakin panjang pesisir dan pantai Indonesia maka akan semakin banyak penduduk miskin Indonesia karena wilayah pesisir dan pantai merupakan tempat atau kantung-kantung kemiskinan masyarakat nelayan (Solihin, 2004; Kusnadi, 2004; dan Kusnadi, 2006).

Fenomena kemiskinan nelayan yang terjadi hingga sekarang ini bukanlah sesuatu yang ahistoris, karena kemiskinan nelayan tidak dapat dilepaskan dari sejarah kebijakan nasional tentang motorisasi perahu dan modernisasi teknologi penangkapan ikan pada awal tahun 1970-an, yang kemudian dikenal dengan istilah program Revolusi Biru (blue revolution) (Kusnadi, 2003). Dalam perspektif ekonomi, program ini dapat dikatakan berhasil karena mampu meningkatkan angka produksi perikanan tangkap dalam waktu singkat. Namun demikian, dalam perspektif sosial, program tersebut telah menciptakan jurang kesenjangan antar nelayan yang berujung pada kecemburuan dan konflik sosial. Selain itu, dalam perspektif ekologi, program Revolusi Biru menyebabkan kerusakan sumberdaya ikan karena kegiatan penangkapan ikan dilakukan secara intensif dengan menggunakan alat tangkap yang semakin efektif dan efisien.

Selain permasalahan kemiskinan, masyarakat nelayan juga dihadapkan pada ancaman dalam usaha penangkapan ikan. Hal ini dikarenakan, usaha perikanan tangkap yang sifatnya berburu (hunting) memiliki resiko usaha yang tinggi, karena penuh ketidakpastian (uncertainty). Artinya, secara ekonomi, usaha perikanan tangkap memiliki kerawanan yang sangat tinggi. Bahkan dalam aspek keamanan, tidak sedikit nelayan yang menjadi korban akibat ganasnya laut, terlebih di tengah perubahan iklim. Ironisnya, masalah ancaman keamanan nelayan dalam melaut tidak disertai dengan jaminan asuransi.

Dengan demikian, kesejahteraan nelayan dan keamanan nelayan dalam usaha penangkapan ikan adalah suatu hal yang harus dperhatikan oleh semua pihak. Mengingat, kegiatan penangkapan ikan memiliki resiko usaha yang tinggi, baik dalam aspek ekonomi maupun keamanan.

Berdasarkan kompleksitas permasalahan dunia perikanan Indonesia tersebut, BNI dengan program Kampoeng BNI Perikanan Muara Angke mencoba menawarkan diri sebagai obat bagi sakitnya masyarakat perikanan. Oleh karenanya sangat wajar, bila mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak Sharif Cicip Sutardjo pernah berujar bahwa “lewat Kampung BNI maka kendala menyangkut UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) untuk dapat permodalan dapat diatasi dengan permodalan dari pihak bank. UMKM akan jadi motor pengembangan kawasan industri kelautan dan perikanan” (detikfinance, 5 Juni 2012).

Sebagai penutup, dalam rangka mengisi nawacita sesuai cita-cita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, maka keberpihakan sangat diperlukan. Kecerdasan Bank BNI dalam membangun model Kampoeng BNI seharusnya menjadi inspirasi bagi para pelaku perbankan, dimana BNI mengadopsi konsep one village one product, yakni komunitas perikanan terintegrasi dalam satu areal. Akankah perbankan Indonesia akan senantiasa memperhatikan nasib nelayan? Semoga.

#69TahunBNI

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.