Oleh: ikanbijak | Agustus 1, 2016

Revitalisasi Industri Gula dan Upaya Kemandirian Pangan

Gula berperan penting dalam menyediakan sumber kalori yang relatif murah, sehingga sebagaian besar masyarakat menempatkan gula sejajar dengan beras, jagung dan kedelai. Oleh karenanya sangat wajar, bila permintaan akan gula tebu kian meningkat. Terlebih seiring dengan meningkatkan jumlah penduduk dan industri lain yang membutuhkan pasokan komoditas gula.

Tingginya kebutuhan gula tercermin dari tren peningkatan luas areal perkebunan tebu, dimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terbitan tahun 2015 mencatat bahwa luas areal perkebunan pada tahun 2014 mencapai 472.676 Ha atau mengalami peningkatan sebesar 0,37 persen dibanding produksi tahun 2013. Namun demikian, meski terjadi penambahan luas areal perkebunan tersebut, produksi tebu hanya mampu menghasilkan sebesar 2.575.392 ton atau hanya mengalami kenaikan produksi sebesar 0,86 persen.

Angka produksi gula tersebut masih di bawah produksi yang dicanangkan pemerintah sebesar 2,95 juta ton untuk produksi GKP (gula Kristal putih) dan sebesar 2,74 juta ton untuk produksi gula GKR (gula krital rafinasi). Sementara itu, angka proyeksi produksi gula nasional sebagaimana yang disebutkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Gamal Nasir, yang dilansir dalam laman PTPN X mengungkapkan  bahwa selama empat tahun diperkirakan akan mengalami kenaikan produksi gula sekitar 3%. Pada tahun 2015, produksi GKP diperkirakan mencapai 2,95 juta ton, kemudian meningkat sebesar 2,98 juta ton pada tahun 2016, 3,03 juta ton pada tahun 2017, 3,09 juta ton pada tahun 2018, dan terakhir pada tahun 2019 sebesar 3,14 juta ton. Sementara itu, Gamal Nasir dalam laman PTPN X tersebut menambahkan bahwa dari proyeksi kebutuhan gula nasional pada tahun 2015, kebutuhan gula nasional mencapai 5,77 juta ton, meningkat pada tahun 2016 sebesar 5,97 juta ton, naik sebesar 6,17 juta ton pada tahun 2017, dan pada tahun 2018 sebesar 6,39 juta ton, terakhir 6,61 juta ton pada tahun 2019.

Berdasarkan angka-angka pertumbuhan tersebut, semestinya industri gula mampu berperan penting dalam perekonomian nasional pada umumnya dan kesejahteraan pelaku usaha gula pada khususnya, terutama petani kebun tebu. Ketidakmampuan industri gula nasional tersebut dicerminkan dengan masih rendahnya pasokan kebutuhan gula di dalam negeri. Hal ini sebagaimana diungkap Ratna Winandi Asmarantaka, Dosen Agribisnis IPB (2011), yang menyebutkan bahwa kebutuhan konsumsi gula nasional pada periode tahun 2003-2007 saja, rata-rata sebesar 3,40 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri sebagaimana disebutkan baru mencapai 2,6 juta ton.

Oleh karenanya sangat wajar, bila impor gula masih terjadi hingga saat ini. Dan ironisnya, tidak sedikit gula illegal ikut masuk memenuhi kebutuhan pasokan gula nasional. Ratna juga menambahkan, bahwa kondisi gula nasional kita berbeda dengan Brazil, dimana dari hasil produksi gulanya 31,30 juta ton pada tahun 2008/2009, sekitar 70 persen ditujukan untuk ekspor (Brazilian Agribusiness, 2010). Artinya, apabila permasalahan ini tidak dituntaskan secara utuh dan menyeluruh, maka sampai kapanpun Indonesia akan menjadi lumbung impor gula. Kekhawatiran tersebut sangat beralasan, data BPS 2015 menyebutkan bahwa pada tahun 2014, ekspor gula hanya sebesar 806 ton. Sementara pada tahun yang sama, impor gula mencapai 2.933.823 ton.

Oleh karena itu, perlu upaya revitalisasi industri gula yang progresif dengan memperhatikan keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan komparatif merupakan ukuran keunggulan potensial, artinya daya saing akan tercapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi (efisiensi ekonomi) dan melihat manfaat aktivitas bagi keseluruhan masyarakat. Sementara keunggulan kompetitif merupakan kelayakan finansial dari suatu aktivitas, artinya melihat manfaat aktivitas tersebut dari sudut lembaga atau perusahaan secara individu (Oktaviani dan Novianti, 2009).

Adapun upaya-upaya yang harus dilakukan dalam mewujudkan swasembada gula nasional, yaitu: Pertama peningkatan produktivitas dan rendemen tebu, sehingga penggunaan benih unggul sangat diperlukan. Kedua, pencarian lokasi baru dan penambahan areal perkebunan tebu. Hingga saat ini, Jawa Timur masih mendominasi dengan angka areal kebun seluas 219,78 Ha atau 46,50 persen total luasan kebun tebu nasional, disusul oleh Lampung (24,26 persen), Jawa Tengah (11,97 persen), dan Sumetara Selatan (5,09 persen). Ketiga, pemberian kemudahan akses kredit ke lembaga perbankan. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa usaha perkebunan tebu, terutama kebun tebu rakyat memerlukan biaya yang relatif tinggi per hektarnya. Oleh sebab itu, pemberian kredit yang murah dan mudah bagi petani memperolehnya, mutlak diperlukan. Keempat, kerjasama secara integrasi horizontal dan vertikal dalam system agribisnis gula di Indonesia, merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: