Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2015

Menuju Generasi Pembeli Cerdas

Bencana asap yang melanda Pulau Sumatera dan sebagian Pulau Kalimantan beberapa bulan terakhir, tidak dapat dilepaskan dari budaya konsumen yang tidak peka terhadap lingkungan (baca: tidak cerdas). Hal ini dikarenakan tingginya permintaan terhadap minyak goreng, sehingga pelaku usaha kelapa sawit melakukan perluasan lahan secara masif. Betapa tidak, oknum pengusaha kelapa sawit yang sudah mendapatkan izin usaha, melakukaan pembukaan lahan dengan cara pembakaran hutan. Suatu cara yang mudah dan murah, bagi mereka yang “berotak” picik.

Dengan demikian, perlawanan terhadap bencana asap tidak hanya mengandalkan pemerintah dengan instrumen hukumnya, akan tetapi juga perlu pendekatan soft melalui pasar dari segenap warga Indonesia. Untuk itu, guna mewujudkan Indonesia bebas asap di masa yang akan datang, khususnya Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, maka kita harus kompak menjadi “pembeli cerdas”.

Dampak Keserakahan Sawit

Sawit merupakan salah satu primadona hasil perkebunan Indonesia. Tahun 2005 misalnya, Malaysia dan Indonesia ditetapkan sebagai produsen CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia. Hal ini sebagaimana laporan Oil World (2005), bahwa Indonesia dan Malaysia masing-masing memasok produksi kelapa sawit dunia sebesar 43 persen dan 44 persen. Namun demikian, mulai tahun 2006 hingga saat ini, Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, kemudian disusul Malaysia di urutan kedua (Sagala dan Simangunson, 2011).

Oleh karenanya sangat wajar, bila Indonesia dalam siaga bencana asap sebagaimana dipaparkan di atas, terutama wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mengingat, produksi kelapa sawit Indonesia didominasi oleh kedua pulau tersebut. Pada tahun 2013, BPS melaporkan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 26.015.000,52 ton. Dari total produksi tersebut, Sumatera menempati urutan pertama dengan angka produksi mencapai 17.933.000,72 ton (68,93 persen) dan Kalimantan mencapai 7.320.000,37 ton (28,14 persen).   Jika digabung, maka kedua pulau tersebut menyumbang 97,07 persen produksi kelapa sawit Indonesia. Jadi, selama perkembangan perkebunan kelapa sawit tidak dikendalikan secara bijak, maka sampai kapanpun bencana asap akan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Bencana asap tahun ini disebut paling parah diantara tahun-tahun sebelumnya. Meskipun tidak diketahui berapa jumlah orang yang meninggal dan yang sakit, namun dapat dipastikan bagi warga yang terpapar asap berbulan-bulan mengakibatkan mereka terancam gangguan pernafasan dalam jangka panjang. Sungguh derita yang tidak termaafkan.

Sementara itu, Pulau Sumatera dan Kalimantan yang kaya akan keanekaragaman hayati, terancam kehilangan warisan yang tak ternilai. Sebut saja gajah Sumatera dan orang utan. Kedua hewan tersebut adalah binatang endemic yang sangat tak ternilai, yang akan menjadi korban berikutnya. Entah korban apalagi yang akan terjadi, bila bencana asap akibat keserekahan oknum pengusaha perkebunana kelapa sawit yang picik.

Menuju Konsumen Cerdas

Berdasarkan besarnya dampak yang ditimbulkan akibat usaha kelapa sawit yang merusak tersebut, maka sudah saatnya kita menjadi konsumen yang cerdas. Hal ini sebagai bentuk perlawanan pasar terhadap keserakahan dan kepicikan oknum pengusaha perkebunan kelapa sawit.

Salah satu upaya untuk menekan laju kerusakan yang ditimbulkan usaha perkebunan kelapa sawit, maka dicetuskankanlah Sustainable Palm Oil (SPO) yang disusun oleh pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit. Dalam SPO tersebut, ditetapkan prinsip dan kriteria yang akan dipersyaratkan penerapannya oleh perkebunan kelapa sawit yang mengekspor CPO. Para pemangku kepentingan membentuk organisasi yang khusus mengurus SPO, yang kemudian diberi nama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Adapun para pemangku kepentingan RSPO, yaitu: produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial. Melalui RSPO inilah nantinya para perusahaan perkebunan kelapa sawit harus mendapatkan sertifikasi kelayakan usaha mereka yang harus sesusai dengan prinsip dan kriteia yang tertuang dalam SPO.

Sebagai penutup, penulis mengajak segenap warga Indonesia untuk menjadi pembeli cerdas dengan cara membeli produk minyak goreng sawit yang memiliki logo RSPO. Untuk itu, ke depan, Pemerintah Indonesia harus bekerjasama dengan para pemangku kepentingan mengajak para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit melaksanakan prinsip dan kriteria yang tertuang dalam SPO. Selain itu, sosialisasi kepada konsumen harus dilakukan secara terus menerus sebagai bentuk kampanye perlawanan terhadap keserakahan perusahaan kelapa sawit. Akankah kita bebas bencana asap? Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: