Oleh: ikanbijak | September 30, 2016

Relawan PMI, Pantang Mengulang Bencana

Relawan PMI, Pantang Mengulang Bencana

Palang Merah Indonesia (PMI) senantiasa hadir dalam setiap kebencanaan. Meraka hadir tanpa memandang suku, agama dan ras. Mereka hadir atas nama kemanusiaan. Oleh karenanya sangat wajar, bila selama ini, PMI hanya dipahami sebagai lembaga penolong di saat bencana datang. Padahal, PMI dengan korps sukarelawannya banyak melakukan program mitigase bencana. Tentu saja, hal ini didasari bahwa Indonesia senentiasa diliputi ancaman bencana, baik yang datang dari atas pegunungan maupun dari dataran rendah dan lautan. Ancaman tersebut diperparah dengan isu dan permasalahan perubahan iklim global.

Secara geografis, geologis, hidrologis, dan demografis, Indonesia merupakan wilayah rawan bencana. Hal ini dikarenakan, wilayah kepulauan Indonesia berada di jalur vulkanik (ring of fire) yang berisiko terjadinya letusan gunung api. Selain itu, kepulauan Indonesia juga berada di atas kerak bumi yang aktif dimana lima patahan lempeng bumi bertemu, bertumbukan yang mengakibatkan pergerakan bumi Indonesia dinamis. Dengan demikian, bencana alam merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dihindari oleh segenap bangsa Indonesia.

Sementara itu, di wilayah pesisir, bencana alam tidak kalah hebatnya. Salah satunya adalah tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Suatu bencana alam yang sangat besar yang tidak akan terlupakan oleh segenap warga Indonesia, bahkan mungkin dunia. Oleh karena itu, sudah semestinya bencana-bencana di wilayah pesisir tersebut menjadi pembelajaran kita bersama. Hal ini dikarenakan, penanganan pasca bencana selalu reaktif tanpa perencanaan.

Bermula dari permasalahan tersebut di atas, Palang Merah Indonesia (PMI) yang mendapatkan donor dari American Red Cross (AMCROS) menggandeng Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Instititut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB) untuk melakukan Program Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) di wilayah pesisir. Program PERTAMA ini menggunakan pendekatan Integrated Coastal Management (ICM) dalam mulai tahap perencanaan hingga monitoring dan evaluasi. Program utama ini adalah greenbelt untuk ekosistem mangrove dan vegetasi pantai. Adapun lokasi program adalah Kabupaten Aceh Jaya (Provinsi Aceh), Kabupaten Lombok Barat (Provinsi Nusa Tenggara Timur), dan Kabupaten Cilacap (Provinsi Jawa Tengah). Sebagai informasi terakhir, program ini ditambah untuk dua kabupaten, yaitu Kabupaten Demak dan Kabupaten Batang (Provinsi Jawa Tengah).

Kelebihan program PMI dalam memulihkan dan mengurangi risiko bencana di wilayah pesisir ini antara lain, yaitu: Pertama, mengandalkan kelompok masyarakat siaga bencana berbasis masyarakat (SIBAT). Kegagalan program-program rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah selama ini umumnya bersifat project oriented, tanpa mengindahkan keterlibatan masyarakat lokal yang tinggal di wilayah tersebut. Untuk itu, program rehabilitasi wilayah pesisir yang dilakukan PMI dimulai dengan pembentukan kelompok-kelompok SIBAT. Suatu kelompok masyarakat yang militansinya dibangun secara serius oleh korps sukarelawan PMI. Dalam membangun pengetahuan kelompok SIBAT, dilakukan berbagai pelatihan mulai dari pelatihan pengelolaan pesisir, pelatihan penghijauan hingga pelatihan pengembangan mata pencaharian alternatif.

Pelatihan pengelolaan pesisir dimaksudkan agar para relawan memahami fungsi ekosistem yang ada di wilayah pesisir, terutama ekosistem mangrove yang mampu menahan laju kerusakan yang disebabkan gelombang. Sementara pelatihan penghijauan, membangun pemahaman masyarakat dalam menyiapkan benih, sehingga program tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli benih, karena relawan PMI menyiapkan kebun bibit yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka. Sedangkan pelatihan pengembangan mata pencaharian alternative, diharapkan mampu keseimbangan antara kepentingan ekologi dan kepentingan ekonomi. Walau bagaimana pun, relawan PMI memerlukan penghidupan diantara semangat sosialnya yang selama ini dikorbankan. Tentu saja. Pengembangan mata pencaharian alternative tersebut masih terkait dengan kegiatan program di wilayah pesisir.

Kedua, perencanaan ICM berbasis desa. Ketiadaan dokumen perencanaan, menyebabkan penanggulangan bencana bersifat reaktif. Oleh karena itu, program PMI dalam memulihkan lingkungan pesisir dimulai dengan penyusunan dokumen ICM di tingkat desa. Hal ini dalam rangka memperkuat dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa yang dihasilkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Desa. Dengan demikian, ICM Desa merupakan pelengkap bagi desa dalam membangun masing-masing desa program berdasarkan karakteristik lokalitas isu dan permasalahannya.

Ketiga,  swadaya bibit. Bibit adalah hal utama bagi keberlanjutan program PMI ini. Betapa tidak, kesalahan selama ini, program rehabilitasi selalu mendatangkan bibit dari luar. Padahal, bibit yang dihasilkan dari lokal akan sangat besar peluangnya untuk tumbuh. Hal ini dikarenakan, bibit lokal akan sangat adaptif dengan media tanah atau cuaca lingkungan sekitar dibanding dengan bibit yang didatangkan dari luar wilayah. Selain itu, pengetahuan dan kemampuan SIBAT dalam membangun kebun bibit menjadi nilai lebih, karena mereka dapat mengembangkan program ini sebagai peluang usaha baru dalam menyediakan bibit mangrove atau vegetasi pantai.

Keempat, penyusunan kesepakatan lokal. Dalam rangka menjamin tumbuh kembangnya manggrove dan vegetasi pantai, maka disusun kesepakatan lokal. Adapun untuk pemerintah Desa, maka ditetapkan Peraturan Desa, sementara untuk Pemerintah Kelurahan dibentuk kesepakatan warga yang kemudian ditetapkan oleh Lurah. Kesepakatan ini sangat penting, karena berisi batasan wilayah program greenbelt, aturan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sanksi bagi para pelanggar, dan kelembagaan yang mengawal pelaksanaan kesepakatan lokal ini.

Kelebihan program PMI ini patut menjadi pembelajaran, khususnya oleh pemerintah yang senantiasa melakukan program rehabilitasi pesisir. Jumlah tanam bukanlah hal yang utama dalam program rehabilitasi, melainkan berapa jumlah bibit yang tumbuh dalam suatu program. Semoga militansi korps sukarelawan PMI menyebar keseluruh wilayah pesisir Indonesia, guna menjadikan lingkungan hijau serta sebagai mitigasi bencana atas wilayah pesisir. oleh karena itu, PMI pantang mengulang bencana, dengan cara melakukan mitigasi berbasis ekologi. Akan hal ini terwujud? Semoga.

#LombaEsaiKemanusiaan

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: