PENGUMUMAN TENTANG PENERIMAAN PENYULUH PERIKANAN TENAGA KONTRAK (PPTK) KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN, BADAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PUSAT PENGEMBANGAN PENYULUHAN TAHUN 2010

02/02/2010 – Kategori : Info Lulusan dan Lowongan Kerja

PENGUMUMAN
Nomor :B. /BPSDMKP.04/TU.210/I/2010

TENTANG
PENERIMAAN PENYULUH PERIKANAN TENAGA KONTRAK (PPTK)
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
PUSAT PENGEMBANGAN PENYULUHAN
TAHUN 2010

Dalam rangka mewujudkan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk Menjadikan Indonesia Sebagai Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Tahun 2015, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara efisien dan berkesinambungan demi kesejahteraan bangsa Indonesia. Sumber daya manusia yang handal dan professional merupakan modal dasar bagi pembangunan kelautan dan perikanan.

Mencermati visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menjabarkan peningkatan target kuantitatif secara terukur; disamping itu, rincian lanjut berupa sasaran strategis Pusat Pengembangan Penyuluhan KP menjelaskan hal-hal yang harus dicapai, yaitu: Seluruh kawasan potensi perikanan menjadi kawasan MINAPOLITAN dengan usaha yang bankable. Dalam kerangka mewujudkan sasaran strategis dimaksud, maka ditetapkan dua indikator kinerja yang harus diwujudkan oleh Pusat Pengembangan Penyuluhan KP, yaitu:

1. Peningkatan persentase kelompok dengan usaha yang bankable (akses dengan bank);
2. Peningkatan persentase materi penyuluhan menjangkau kawasan minapolitan oleh penyuluh.

Pada tataran penjabaran target keberhasilan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang mencantumkan angka peningkatan produksi perikanan budidaya sebesar 353%; maka tidak ada jalan lain, kecuali menggerakkan seluruh potensi sumber daya manusia kelautan dan perikanan secara bersama melangkah dan menyatukan persepsi. Langkah terobosan yang telah dilakukan Pusat Pengembangan Penyuluhan KP selama beberapa tahun ini adalah merekrut lulusan D III atau D IV atau S1 bidang perikanan, sebagai Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK). Sepanjang tahun 2009, sejumlah lulusan D IV atau S1 bidang perikanan, telah memberikan waktunya mendukung program kelautan dan perikanan sebagai PPTK dengan menandatangani kontrak kerja sebagaimana tercantum dalam surat Keputusan Kepala Pusat Pengembangan Penyuluhan BPSDMKP Nomor SK.001/BPSDMKP.4/KP.350/ 1/2009 dan Nomor SK.003/BPSDMKP.04/TU.210/I/2009; yang menyatakan bahwa seluruh PPTK yang melakukan kontrak kerja pada tahun 2009 telah berakhir masa kontraknya tanggal 31 Desember 2009.

Pada tahun 2010, Pusat Pengembangan Penyuluhan, Badan Pengembangan SDM KP membuka Penerimaan Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak dengan penajaman persyaratan, sehingga memberi keyakinan bahwa PPTK tahun 2010 yang memenuhi persyaratan akan menjadi dinamisator dan penggerak utama yang mampu meningkatkan Pengembangan Penyuluhan dalam mewujudkan dua indikator kinerja tersebut di atas.

Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 harus memenuhi persyaratan dan mengirimkan surat lamaran sesuai dengan petunjuk teknis tentang Penerimaan Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010 (terlampir) dan paling lambat sudah diterima oleh panitia di Pusat Pengembangan Penyuluhan tanggal 6 Februari 2010 baik melalui pos ataupun email.

Jakarta, Januari 2010
Pusat Pengembangan Penyuluhan

informasi lebih lanjut : kunjungi www.dkp.go.id

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2014

Menikmati Deburan Air Terjun Asin di Pulau Lombok

Apa? Ada air terjun air asin di Pulau Lombok? berapa meter panjangnya? Dimana lokasinya?
Rasa penasaran itu menggerakan kamera saya untuk segera mengabadikan fenomena langka tersebut. Alhasil, informasi yang tercetus dari relawan-relawan Palang Merah Indonesia (PMI) hari itu saya tindak-lanjuti dengan cara mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai air terjun air asin di Pantai Nambung. Hasil penelusuran dunia maya pun menemukan beberapa foto yang berhasil diunggah oleh fotografer landscape. Setelah informasi terkumpul, agenda berikutnya adalah mencari guide lokal dan kendarawaan sewaan untuk jalan-jalan esok hari.
Menjelang pukul 11.00 WITA, perjalanan pun dilakukan menuju Pantai Nambung dari Kota Mataram yang memerlukan waktu sekitar `1,5 jam. Penentuan waktu tersebut bukan tanpa alasan, karena berdasarkan informasi yang diperoleh, fenomena air terjun asin tersebut hanya terjadi jika gelombang besar. Artinya, fenomena air terjun asin tidak bisa dinikmati setiap saat, sehingga pengunjung harus benar-benar tahu musim yang sedang berlangsung.

Pantai Nambung dengan efek air laut yang menabrak dinding karang, diperlukan kehatti-hatian.

Pantai Nambung dengan efek air laut yang menabrak dinding karang, diperlukan kehatti-hatian.


Setiba di Pantai Nambung, saya disambut hamparan pasir sebesar buah merica yang memanjang sejauh 2 km. Bentuk butiran pasir di Pantai Nambung sama persis dengan pasir laut yang terdapat di Pantai Tanjung Aan dan Pantai Kuta Lombok Tengah. Bentuk pasir seperti merica ini sangat melelahkan bagi setiap orang melewatinya. Untuk itu, strategi yang saya lakukan adalah menginjak bekas-bekas langkah telapak kaki orang-orang sebelumnya. Sehingga beban berat tubuh tertahan, tidak langsung terbenam ke dalam pasir merica ini. Masalah lain berjalan di pasir merica ini adalah “jebakan batman” kotoran warga yang buang air besar di pantai.
Meski perjalanan yang sangat melelahkah, suasana alam di Pantai Nambung bisa melupakan lelah dan pegalnya kaki. Setelah melalui 2 km pasir merica, kita akan melihat bebatuan yang bertubrukan dengan dinding bukit di Pantai Nambung. Lagi-lagi bebatuan ini menghampar 2 km menuju air terjun asin. Berjalan di bebatuan ini perlu hati-hati. Selain licin, bebatuan tersebut juga tajam-tajam sehingga perlu sepatu yang ideal, bukannya sepatu kerja yang saya pakai saat itu. Sebenarnya, untuk menuju air terjun asin bisa ditempuh melalui jalur laut dengan cara menyewa perahu kecil.
Ketika beberapa menit sebelum menyaksikan air terjun asin, terdengar dari kejauhan deburan ombak dan hempasan partikel-partikel kecil air laut yang terbawa angin. Untuk menyaksikan detik-detik terjadinya air laut, saya mencoba menaiki tebing tinggi sambil minum Liang Teh Cap Panda yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Dari atas terlihat detik-detik terjadinya air terjun, yang disebabkan oleh hempasan gelombang besar yang menabrak dinding pantai berbatu keras dan terjal. Bahkan, setiap gelombang menabrak dinding karang akan terdengar desisan angin yang tercipta dari bawah bebatuan.
Setelah menyaksikan fenomena alam air terjun asin, berbeda dengan air terjun di pegunungan yang mengalir setiap saat sebagaimana kita lihat biasanya. Karena efek aliran air terjun asin hanya akan tercipta bila kondisi air sedang pasang ditambah dengan musim yang terjadi saat itu. Namun aliran air mulai dari aliran pertama yang sangat keras sampai aliran lembut dari sisa-sisa air terjun yang jatuh.
Untuk merekam keindahan fenomena air terjun asin, diperlukan perlengkapan fotografi yang lengkap, seperti tripod dan filter, baik filter CPL maupun ND. Karena efek air yang jatuh di sela-sela sasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun sayang, disini belum berkembang wisata bahari sehingga penginapan di sekitar pelabuhan perikanan nusantara harus steeril dari para preman.

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2014

Ekosistesme Pantai Selatan Lombok Tengah

Kebanyakan wisatawan ke Lombok pasti hanya mengenal Pantai Senggigi atau gugusan tiga pulau yang jaraknya tidak jauh dari Senggigi tersebut. Ketiga pulau itu dikenal dengan sebutan gili matra, kepanjangan Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan. Kawasan objek wisata ini berada di Lombok Barat dan Lombok Utara. Hal ini sangat wajar, lantaran kawasan wisata di wilayah tersebut sudah dikenal masyarakat dunia dan menjadikan sebagai destinasi favorit setelah Bali.
Saking terkenalnya, pada saat-saat musim liburan, kawasan ini terasa sesak oleh hingar bingar dentuman musik keras yang bersumber dari kafe-kafe yang berjajar di pinggir pantai. Selain itu, hamparan pasir putih pun tidak luput dari rebutan para pengunjung, khususnya wisatawan asing yang menggelar kainnya untuk sekedar berjemur dan membaca novel di pinggiran pantai. Bagi wisatawan muda yang suka kehidupan ramai, Senggigi dan Gili Matra akan tetap menjadi pilihan utama. Mengingat, disini, hampir dapat dikatakan kehidupan berjalan 24 jam.
Di tengah keriuhan wisata pantai di sebelah barat dan utara, Lombok masih menyisakan lokasi terbaik yang tidak kalah indahnya, yaitu wisata pantai selatan di Kabupaten Lombok Tengah. Sebut saja Pantai Kuta, Mawun, Tanjung Aan, dan Batu Payung. Adalah pantai-pantai di wilayah selatan yang kaya akan poteni wisata bahari, mulai dari perbedaan jenis pasir hingga kegiatan wisata yang ditawarkan sesuai kondisi perairan lautnya.
Pagi itu matahari tanpa malu-malu menampakkan diri, setelah sehari sebelumnya diselimuti awan tipis dan hujan ringan. Perjalanan menuju kawasan pantai selatan memerlukan waktu setidaknya 1,5 jam, menggunakan mobil sewaan. Lokasi pertama yang akan saya datangi pertama kali adalah Pantai Batu Payung, yang secara administrasi masuk dalam wilayah Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Setiba di Pantai Batu Payung, hamparan pasir tipis dikerubuti bebatuan coklat kemerawan di sepanjang pantai. “Batu Payung mulai terkenal setelah muncul pada iklan rokok, setelah itu wisatawan, baik lokal maupun asing berdatangan kesini”, tutur Ari, driver yang sekaligus menjadi guide hari itu.

Pantai Batu Payung dengan icon batu besar berbentuk payung

Pantai Batu Payung dengan icon batu besar berbentuk payung


Keunikan pantai ini adalah adanya batu besar menjulang ke atas seperti payung, sehingga penamaan Pantai Batu Payung berasal dari bentuk batu tersebut. Untuk menuju batu berbentuk payung, bisa ditempuh 1 jam berjalan kaki dari Pantai Tanjung Aan atau 15 menit menggunakan perahu nelayan yang disewa. Atau kendaraan yang kita tumpangi diarahkan ke pantai terdekat, sehingga cukup berjalan kaki hanya memerluka waktu 20 menitan. Menyusuri pantai berbatu dengan berjalan kaki diperlukan kehati-hatian, karena bebatuan tersiram air laut menjadikan lokasi yang kita pijak sangat licin dan bebatuan tajam, sehingga bisa merobek kulit kaki.
Hembusan angin laut dan keindahan tekstur pantai berbatu melupakan perjalanan kaki yang cukup melelahkan dan menguras energi. Kita bisa beristirahat di bawah sebongkah batu besar menjulang tinggi laksana gapura yang akan menyambut setiap pengunjung. Suasana akan lebih dramatis ketika matahari tenggelam (sunset), dimana fotografer bisa mengabadikan efek flare di samping batu payung.
Pantai Tanjung Aan hamparan pasir bersambung hamparan bebatuan datar

Pantai Tanjung Aan hamparan pasir bersambung hamparan bebatuan datar


Setelah berpuas diri dengan hamparan bebatuan, saya melanjutkan perjalan menuju Pantai Tanjung Aan, yang persis berdampingan dengan Pantai Batu Payung. Cuma memerluka waktu 10 menit menggunakan mobil sewaan, kami tiba di pantai yang memiliki hamparan pasir putih yang bersambung dengan hamparan bebatuan keras menjorok ke tengah laut. Tidak tanggung-tanggung, hamparan pasir putih tersebut membentang 2 km, sehingga dijamin tidak akan terjadi rebutan lokasi untuk berjemur. Kegiatan yang umumnya dilakukan oleh wisatawan adalah snorkeling, berenang dan bermain perahu kayak. Menurut penjaga parkir, Pantai Tanjung Aan akan sangat ramai pada Bulan Februari karena ada Ritual Bau Nyale. Ritual ini terkait dengan cerita rakyat Pulau Lombok, yaitu tentang Puteri Mandalika yang menolak dinikahi seorang pangeran. Menurut cerita lokal tersebut, sang puteri berubah menjadi “Nyale”, atau cacing laut. Oleh masyarakat setempat, “Nyale” tersebut menjadi bahan masakan.
Pantai Kuta Lombok Tengah dengan view Bukit Kura-kura

Pantai Kuta Lombok Tengah dengan view Bukit Kura-kura


Matahari semakin meninggi, sehingga saya harus mengisi perut guna menyusuri pantai lainnya. Driver menyarankan untuk makan siang di Pantai Kuta, karena banyak pilihan. Tentu saja, salah satu pilihan saya adalah ayam goreng taliwang dan pelecing kangkung. Makanan ini jangan sampai terlewatkan bila anda berkunjung ke Pulau Lombok. Setelah perut terisi nasi dan ayam taliwang, saya pun menikmati hamparan pasir bulat sebesar merica. Sehingga berjalan-jalan di pasir seperti ini sangat melelahkan, karena setiap melangkah kaki selalu tertancap di pasir. Pantai Kuta diapit dua tanjung, dimana salah satu tanjungnya berbentuk kura-kura sehingga disebutlah Bukit Kura-kura. Kegiatan wisata yang bisa dilakukan disini adalah snorkeling dan berenang.
Sebelum energi terkuras oleh pasir “merica” di Pantai Kuta, saya melanjutkan ke Pantai Mawun. Sepintas pantai ini seperti kolam, karena pintu masuk air lautnya relatif sempit, diapit oleh tanjung berbukit. Panorama sangat sempurna, pasir putih yang terserak mengeliling pantai yang berbentuk bulat dengan perairan jernih tergradasi hijau muda dan hijau tua, sementara di belakang pantai bercampur warna hijau dan coklat yang menghiasi perbukitan. Sungguh lukisan alam yang yang sangat sempurna. Disini adalah lokasi favorit wisatan asing yang membawa keluarga penuh, karena pantainya yang dangkal sehingga para orang tua tidak was-was anak-anaknya terseret ombak.
Pantai Mawun dengan bentangan pasir putih serta perbukitan

Pantai Mawun dengan bentangan pasir putih serta perbukitan


Keindahan alam di sepanjang pantai selatan Kabupaten Lombok Tengah memang sangat luar biasa. Namun sayang, sarana dan prasarana wisata di wilayah selatan sangat terbatas, tidak seperti di wilayah barat dan utara yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan wisata bahari. Semoga di kemudian hari, pantai-pantai di wilayah selatan menjadi pilihan utama wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2014

Pesona Pantai Pink di Lombok Timur

Lombok bukan hanya Pantai Senggigi atau Gili Trawangan, dan bukan juga hanya pelecing kangkung atau ayam taliwang. Lombok adalah anuegarah Tuhan yang sangat indah, objek wisata terbentang mengisi setiap sudut bibir pantai hingga jurang-jurang Gunung Rinjani. Objek wisata terserak mulai dari utara (Gili Matra – Meno, Air dan Trawangan) hinggu selatan (pantai-pantai indah seperti Batu Payung, Tanjung Aan, dan Mawun), serta dari barat (Pantai Senggigi, Pantai Malimbu dan Pantai Nambung dengan air terjun asinya) hingga timur (Pantai Pink).
Selain keindahan alam, Lombok memiliki kebudayaan yang menarik untuk dikupas, seperti Gendang Belleq, nyongkolan (iring-iringan pengantin), tari gandrung, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan kerajinan tangan, wisatawan dapat mengabadikan para penenun di desa adat, seperti Desa Sade yang menjaga nilai-nilai luhur Suku Sasak. Sementara untuk makanan, pelecing kangkung dan ayam taliwang jangan pernah terlewatkan.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Lombok tahun 2003, yang saat itu tujuannya untuk riset budaya lokal dalam mengelola sumberdaya ikan, saya langsung jatuh cinta sama Pulau Lombok. Puncaknya tahun 2014, dimana saya memiliki riset dan pendampingan masyarakat di dua lokasi, yaitu Lombok Barat dan Lombok Timur. Kesempatan ini menuntut saya untuk mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang objek wisata di Pulau Lombok, salah satunya adalah Pantai Pink. Namun sayang, karena mobil sewaan yang digunakan saat itu adalah standar, niatan mengunjungi Pantai Pink pun harus dibatalkan. “kalau ke Pantai Pink harus sewa mobil besar pak”, tutur Ari yang menjadi sopir langganan saya setiap melakukan kunjungan ke Lombok.
Pink beach
Sejak saat itulah, saya selalu menggunakan mobil-mobil bertenaga besar untuk menyusuri setiap sudut bibir pantai Pulau Lombok. Mengingat, akses jalan di Pulau Lombok tidak merata, termasuk akses jalan ke Pantai Pink. Siang itu matahari dengan kerasnya mengeluarkan cahaya, ketika kami meninggalkan Kota Mataram. Berdasarkan informasi dari sang sopir, perjalanan Kota Mataram ke Pantai Pink memerlukan waktu sekitar 2 jam, bahkan bisa lebih bila musim hujan karena akses jalan belum semua diaspal. Jadi, andaikan jalanan menuju Pantai Pink mulus, perjalanan bisa lebih cepat.
Oleh masyarakat lokal, Pantai Pink dikenal juga dengan nama Pantai Merah, karena warna pasirnya yang ke merah-merahan. Namun nama yang sebenarnya adalah Pantai Tangsi, entah apa yang melatarbelakangi pemberian nama itu. Secara administrasi, Pantai Pink masuk Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, yang merupakan bagian dari Pantai Tanjung Ringgit.
Setiba di Pantai Pink, mobil tidak bisa menembus bibir pantai karena akses jalan menurun berpasir dan berbatu, sehingga sangat berbahaya. Kami pun terpaksa berjalan kaki sepanjang 1 km, dengan debu-debu tebal tertiup angin. Setelah berjibaku dengan jalanan yang rusak, terpampanglah bentangan alam yang sangat sempurna, antara kemarahan pesisir pantai, laut biru bergradasi hijau toska, dikeliling savana kecoklatan ditebing-tebing perbukitan. Hamparan butiran-butiran merah bukanlah pasir murni sebagaimana pasir pantai berwarna putih lainnya, melainkan adalah pecahan-pecahan terumbu karang berwarna merah yang terbawa ombak dan proses alami menjadikan pecahan koral menyatu dengan pasir di pantai dan membentuk warna merah muda. Di Indonesia, pantai pink hanya ada dua, satunya lagi di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur.
Keindahan daratan pantai dilengkapi dengan dasar perairan yang jernih, sehingga lenggak-lenggok penghuni terumbu karang pun terlihat jelas. Terlebih, dasar perairan banyak didominasi soft coral, sehingga arus laut menggerakannya seperti mereka sedang menari. Sementara itu, kedua bukit mengapit Pantai Pink dengan gagahnya. Bila berkunjung kesini, jangan malas untuk naik ke puncak kedua bukit tersebut, karena disana kita akan menyaksikan hamparan padang rumput yang kecoklatan karena tidak tersiram air, laut biru dengan langit dihiasi awan putih yang sangat dramatis. Sungguh ciptaan Tuhan yang tiada tara. Namun sayang, keindahan Pantai Pink belum terkenal luas, karena minimnya perhatian pemerintah dalam mendukung pengembangan wisata di kawasan ini.

Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2014

Program Cubluk Untuk Desa Sehat

Di tengah keasrian, suasana pedesaan menyimpan permasalahan laten yang masih terjadi hingga saat ini. Ironisnya hal itu masih terjadi di era digital sekarang ini. Sanitasi lingkungan pedesaan yang dihadapkan pada ancaman kesehatan warga yang disebabkan oleh kebiasaan warga “buang hajat” di kebun. Tentu saja, kebiasaan tersebut berdampak terhadap kesehatan seluruh warga desa. Terlebih ketika musim penghujan tiba.
Atas bencana laten tersebut, apakah warga desa dihadapkan pada permasalahan kemiskinan sehingga mereka tidak mampu membangun penampungan kotoran manusia? Atau mereka tidak peduli atas kebiasaan buruk yang dilakukan selama ini? Atau kurangnya program-program rekayasa sosial (social enginering) untuk mengubah perilaku buruk tersebut? Terlepas dari semua pertanyaan itu, sanitasi lingkungan kesehatan pedesaan harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen, khususnya pemerintah.

Kompleksitas Permasalahan
Sebagaimana disebutkan di atas, masalah sanitasi desa yang disebabkan kebiasaan buruk buang hajat tidak hanya terjadi di pedesaan pertanian, akan tetapi juga pedesaan pesisir. Bedanya warga desa pertanian buang hajat di semak-semak, warga desa pesisir melakukannya secara terbuka di pinggir pantai atau dermaga. Jadi, semakin panjang pantai, maka semakin panjang pula WC alami desa.
Sementara persamaannya adalah bencana wabah diare yang senantiasa dapat menyerang warga setiap saat secara massal. Selain itu, wabah lainnya adalah penyakit kulit (gatal-gatal). Tentu saja, ketidaknyamanan bau adalah hal yang sangat mengganggu keseharian warga.
Kebiasaan buruk buang hajat masyarakat pedesaan sangat kompleks. Pertama, aspek ekonomi. Alasan utama warga buang hajat di kebun atau pantai karena tidak mampu membangun jamban atau WC. Mengingat rumah warga umumnya rumah panggung atau bilik. Kedua, aspek budaya. Faktor kedua ini terjadi secara turun-temurun dan menjadi kebiasaan lumrah yang dilakukan warga tanpa rasa malu. Bahkan, penulis sempat bertanya tentang budaya buang hajat di ruang terbuka ketika melakukan pendampingan di desa pesisir, alasannya cukup menggelitik, bahwa mereka tidak bisa buang hajat kalau tidak terkena air laut. Sungguh suatu jawaban yang tidak masuk akal, namun itu fakta.
Ketiga, aspek norma, dimana Pemerintah Desa tidak sadar untuk mengatur kebiasaan warganya yang melakukan buang hajat di ruang terbuka. Padahal, Pemerintahan Desa yang dalam hal ini Kepala Desa beserta aparaturnya bersama Badan Perwakilan Desa (BPD) dapat menyusun aturan lokal melalui Peraturan Desa tentang Sanitasi Lingkungan Sehat Pedesaan. Keempat, kurangnya dukungan program pemerintah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan anggaran dalam membuat WC publik.

Menuju Desa Sehat
Program pembangunan desa sehat harus dilakukan secara perlahan dan berkelanjutan, yang disertai dukungan dana baik yang berasal dari pemerintah maupun pihak ketiga (swasta atau lembaga swadaya masyarakat). Salah satu program yang harus diperhatikan adalah pembangunan cubluk secara massal.
Cubluk adalah lubang/sumuran yang dibuat dengan menggali tanah dengan dinding yang merembes air. Jadi cubluk merupakan suatu lubang yang digunakan untuk menampung air limbah manusia dari jamban, berfungsi sebagai tempat pengendapan tinja dan juga media peresapan dari cairan yang masuk (http://www.dimsum.its.ac.id). Menurut artikel yang terdapat dalam http://sanitasi.or.id, bahwa cubluk berbeda dengan septic tank. Dimana sistem cubluk biasanya dilengkapi dengan kloset leher angsa, bahkan ada yang menggunakan kloset duduk. Dengan adanya kloset tersebut, memungkinkan bau tidak menyebar dan mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lainnya di dalam perpipaan atau ruang cubluk itu sendiri. Sementara Sistem septic tank merupakan tangki berbentuk empat persegi panjang atau bulat. Konstruksi dibangun di bawah tanah sehingga air bekas dari kakus, kamar mandi, kamar cuci, dapur dan air bekas bisa dialirkan ke dalam tangki tersebut. Tangki ini berfungsi mengolah air limbah tersebut agar tidak berbahaya bagi lingkungan.
Terlepas perbedaan antara cubluk dan septic tank tersebut, perlu proses social enginering untuk masyarakat pedesaan dalam mewujudkan desa sehat. Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, pemerintah harus menggaet pihak swasta dalam rangka mencairkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility). Tentu saja, program pembangunan cubluk harus diawali dengan gerakan penyadaran tentang budaya hidup sehat, yang dalam hal ini pemerintah bisa mengajak LSM dan perguruan tinggi.
Sementara itu, supaya lebih bermanfaat, program cubluk bisa disinergikan dengan program lainnya yang tidak kalah penting, yaitu pemanfaatan gas buangan kotoran untuk energi dan pembuatan kompos untuk pupuk alam. Akankah Indonesia dapat mewujudkan Desa Sehat di seluruh nusantara? Semoga.

Oleh: ikanbijak | Oktober 22, 2014

Fun Experience with Central Springbed

Rutinitas kerja yang umumnya berlangsung delapan jam (08.00 – 16.00) setiap harinya membutuhkan daya tahan tubuh yang baik. Dengan kata lain, terganggunya kesehatan tubuh akan mengganggu sistem kerja. Salah satu faktor yang kadang diabaikan oleh kita adalah tidur. Padahal, dampak kekurangan waktu tidur atau tidur yang tidak berkualitas akan mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh, metabolisme, kemampuan memori, dan fungsi-fungsi vital lain.
Menurut Chopra (2003), tidur merupakan dua keadaan yang bertolak belakang dimana tubuh beristirahat secara tenang dan aktivitas metabolisme juga menurun namun pada saat itu juga otak sedang bekerja lebih keras selama periode bermimpi dibandingkan dengan ketika beraktivitas di siang hari. Oleh karenanya sangat wajar, bila kita diwajibkan menyisakan waktu untuk tidur sebagai bentuk “zakat” atas mesin yang bekerja terus-menerus dalam tubuh kita. Pertanyaannya, apakah tidur kita sudah benar? Mengingat permasalahan tidur bukan hanya lamanya, akan tetapi juga kualitas istirahat. Mulailah memahami tidur untuk “Fun Experience with Central Springbed”.
Orang yang kualitas tidurnya terganggu dicirikan oleh dua hal, yaitu: Pertama, tanda fisik, meliputi ekspresi wajah (area gelap di sekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung), kantuk yang berlebihan (sering menguap), tidak mampu untuk berkonsentrasi (kurang perhatian), terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing. Kedua, tanda psikologis, meliputi: menarik diri, apatis dan respons menurun, merasa tidak enak badan, malas berbicara, daya ingat berkurang, bingung, timbul halusinasi, dan ilusi penglihatan atau pendengaran, kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun (anonim, 2014).
Banyak hal yang menyebabkan kualitas tidur, salah satunya adalah tempat tidur (kasur). Pegas kasur yang tidak bermutu tidak akan mampu menopang berat tubuh dalam waktu lama, sehingga hal ini akan mengakibatkan sakit punggung. Selain itu, pemahaman tentang kasur yang ekstra lembut baik untuk kesehatan, ternyata berbanding terbalik. Hal ini ini sebagaimana hasil penelitian yang mengungkapkan, bahwa pasien dengan keluhan sakit punggung justru disebabkan oleh kasur lembut tersebut. Oleh karena itu, sebelum membeli kasur baru, luangkan waktu untuk menguji kualitas kasur tersebut. Kita harus memilih kasir dengan konstruksi yang mampu menopang punggung dengan nyaman. Salah satu kasur yang berkualitas untuk tidur yang berkualitas adalah produk dari central springbed, karena produk ini akan menciptakan “Fun Experience with Central Springbed”. Marilah menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih tempat tidur. Maka pilihlah produk-produk Central Springbed.

Hiruk-pikuk dunia politik Indonesia nampaknya belum berakhir. Betapa tidak, kekisruhan pemilihan umum anggota legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-Republik Indonesia, DPR Daerah Provinsi, dan DPR Daerah Kabupaten/Kota) yang diramaikan gugatan para calon dan pengurus partai ke Mahkamah Konstitusi (MK), dilanjutkan dengan ketegangan 2 (dua) kandidat pemilihan presiden dan wakil presiden (Joko Widodo – Jusuf Kalla vs Prabowo – Hatta Rajasa) yang sangat menguras energi. Kontestasi kedua capres-cawapres sudah menarik emosi sejak awal, entah karena hanya ada dua pasangan yang saling berhadapan. Black campaign terus mengalir dari dua kubu di berbagai media, baik internet, televisi, koran bahkan spanduk-spanduk yang mengotori ruang publik.
Setelah pasangan Jokowi-JK terpilih, kegaduhan kembali terjadi ketika DPR-RI membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dimana partai pengusung Prabowo-Hatta atau yang dikenal koalisi merah putih (KMP) memenangkan voting 224 suara lawan koalisi partai pemenang (baca: PDIP) 135 suara. Artinya, pemilihan kepala daerah, baik Gubernur maupun Bupati/Walikota dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat. Sontak saja, koalisi PDIP melayangkan gugatan ke MK, namun gugatannya ditolak. Entah penolakan ini adalah babak baru konflik perpolitikan Indonesia.
Berkaca kepada masyarakat adat Sunda, mereka mempunyai falsafah hidup bermasyarakat yang sangat luhur dan tidak pernah menimbulkan konflik di masyarakat. Hal ini dikarenakan, masyarakat adat Sunda memegang teguh pepatah orang tua yang dijalankan hingga sekarang, yaitu “Nyanghulu ka Hukum, Nunjang ka Nagara, Mufakat jeung Balarea”. Pepatah adat sunda tersebut saya peroleh ketika berkunjung ke Kasepuhuan Sinar Resmi yang merupakan Kesatuan dat Banten Kidul, pada acara seren tahun.
Pepatah dalam spanduk
Apabila dipisah-pisah, maka arti “Nyanghulu ka Hukum” adalah setiap individu masyarakat harus mengedepankan hukum dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Sehingga tidak ada tindakan main hukum sendiri atau pemukulan massal terhadap setiap pelaku kejahatan. Semuanya diserahkan pada hukum, khususnya hukum yang berlaku dalam tatanan masyarakat lokal (adat) dan umumnya hukum yang berlaku secara formal (peraturan perundang-undangan). Sementara arti “Nunjang ka Nagara” artinya semua tindak-tanduk bermasyarakat harus mendukung tetap berdirinya negara atau pemerintahan, sehingga masyarakat akan sangat mengakui sistem pemerintahan mulai dari tingkat bawah hingga presiden. Dan arti “Mufakat jeung Balarea” adalah semua keputusan yang akan diambil oleh pimpinan adat harus dilakukan secara mufakat bersama seluruh warga. Hal ini dalam rangka menjaga kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat adat. Dengan demikian, secara utuh, pepatah adat sunda tersebut mengamanatkan bahwa dalam bermasyarakat hukum adalah hal utama yang harus ditegakkan dalam rangka menopang sistem pemerintahan yang ajeg, yang diciptakan melalui kesepakatan bersama.
Berdasarkan pepatah tersebut, terlihat jelas bahwa konflik horizontal antar masyarakat dan konflik vertikal antara masyarakat dan pemerintah tidak akan terjadi. Karena masyarakat adat sunda memegang teguh pada hukum, negara dan kesepakatan bersama. Pertanyaannya, kenapa kita yang hidup dalam tatanan modern ini tidak mampu menerapkan falsafah hidup nenek moyang kita? Saya meyakini bahwa setiap suku yang terserak di seluruh nusantara ini memiliki hal yang sama dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apakah para politisi dan pemimpin kita harus magang di masyarakat adat terlebih dahulu? Guna mendapatkan pembelajaran yang harmonis dan saling menghargai diantara perbedaan dan kemajemukan untuk menjunjung tinggi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Semoga.
Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati
baner bahasa

Oleh: ikanbijak | September 18, 2014

Wisata Sejarah di Kepulauan Seribu

Matahari kian meninggi, ketika perahu yang kami sewa berangkat dari dermaga Tanjung Pasir Tangerang. Perahu berbadan lebar yang dioperasikan dua anak buah kapal itu melaju pelan membawa kami ke gugusan pulau kecil yang penuh dengan sejarah panjang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjalanan sengaja ditempuh dari Tanjung Pasir, bukannya dari Muara Angke atau Ancol, karena pulau-pulau yang akan kami kunjungi lebih dekat ke arah Tangerang dibanding Jakarta Utara.

20 menit berlalu, perahu kami bersandar di dermaga beton Pulau Onrust. Pulau kecil yang tidak bisa dilepaskan dari masa kelam penjajahan di nusantara. Menurut catatan sejarah, Tahun 1619, armada dan tentara VOC berkumpul disini untuk mempersiapkan penyerangan Kota Jayakarta. Sejak saat itulah, kerajaan-kerajaan di nusantara jatuh ke tangan Belanda. Setidaknya itulah informasi yang diperoleh dari papan informasi yang terpasang di Pulau Onrus. Saking strategisnya, Pulau Onrus menjadi perebutan antara Belanda, Inggris dan Portugis. Oleh Pemerintah DKI Jakarta, Pulau Onrus ditetapkan sebagai cagar budaya yang dikelola oleh UPT Taman Arkeologi Onrust. Disini kita akan melihat bangunan sisa-sisa kolonialisasi. Selain itu, juga terdapat makam keramat tokoh DI/TII (SM Kartosoewirjo).

Setelah berpuas diri dengan puing-puing bangunan di masa penjajahan, perjalanan kami lanjutkan menuju Pulau Cipir. Di masa lalu, Pulau Cipir berperan penting sebagai penyangga Pulau Onrus. Mengingat, Pulau ini dimanfaatkan untuk menampung para calon jemaah haji yang tidak tertampung di Pulau Onrus. Berdasarkan informasi yang terpampang di papan informasi, fungsi-fungsi bangunan yang terdapat di Pulau Onrus digunakan dalam rentang waktu 1911 hingga 1933. Keindahan bangunan tua yang terdapat di pulau ini sering dijadikan foto pre-wedding.

Masih di gugusan pulau kecil di utara Jakarta, terdapat Pulau Bidadari yang sebelumnya bernama Pulau Sakit, karena dulu pulau ini digunakan oleh Belanda untuk Rumah Sakit Lepra. Sayang, sisa-sisa bangunan rumah sakit tidak dapat ditemukan lagi di pulau ini. Namun, kita masih bisa menemukan benteng lingkar “Martelo”yang dibangun pada Tahun 1850, yang saat itu Belanda menjadikan Pulau Bidadari sebagai pulau pertahanan militer, serta meriam yang digunakan pada saat perang Belanda – Inggris di Teluk batavia (Jakarta) pada Tahun 1800-1810. Oleh pihak swasta, Pulau Bidadari dikelola secara profesional tanpa menghancurkan bangunan sejarah dan lingkungannya.

Tidak jauh dari Pulau Bidadari terlihat pulau kecil yang memiliki bangunan benteng pertahanan militer, yaitu Pulau Kelor atau yang disebut juga Pulau Kherkof. Dalam sejarahnya, pulau ini merupakan salah satu pulau pertahanan VOC dalam menghadapi serangan Portugis pada abad ke-17. Sisa pertahanan militer Belanda di Pulau Kelor adalah Benteng Martelo. Namun demikian, objek sejarah Benteng Martelo kondisinya sangat mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan abrasi yang cukup parah, yang juga berdampak terhadap luasan pulau.

Untuk menikmati Pulau Kelor tidak perlu berlama, disamping ukurannya kecil, disini minim fasilitas kecuali saung berteduh yang berada di ujung dermaga beton. Makanya kami memutuskan makan siang di pulau yang bersejarah terakhir, yaitu Pulau Damar Besar. Sebagian orang Jakarta mengenal pulai ini dengan sebutan Pulau Monyet, dan pada masa lalu lebih dikenal dengan nama Pulau Edam. Di pulau yang cukup luas ini, terdapat bangunan bersejarah “mercusuar” yang disebut Vast Licht setinggi 56 meter dan seluruhnya tebuat dari besi pelat. Berdasarkan informasi yang tertera di dinding mercusuar, bangunan ini dibuat pada Tahun 1879 atas izin Z.M William III dari Kerajaan Belanda. Selain itu, pulau ini memiliki sejarah lain, yaitu adanya makam Ratu Syarifah Fatimah, yang merupakan ratu keturunan arab yang berkuasa di Kesultanan Banten.

Kelima pulau yang dipaparkan tersebut, memiliki sejarah panjang keberadaan penjajah di DKI Jakarta. Oleh karenanyam Pemerintah DKI Jakarta menetapkan Pulau Onrus, Pulau Cipir, Pulau Kelor, Pulau Bidadari, dan Pulau Damar Besar ditetapkan sebagai Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu. Sebuah upaya untuk menjaga kelestarian sejarah panjang penjajahan di bumi pertiwi.

Pulau Onrust

Pulau Onrust

Benteng Martelo di Pulau Bidadari

Benteng Martelo di Pulau Bidadari

Reruntuhan asrama haji di Pulau Cipir

Reruntuhan asrama haji di Pulau Cipir

Benteng Martelo di Pulau Kelor

Benteng Martelo di Pulau Kelor

Mercusuar jaman Belanda di Pulau Damar

Mercusuar jaman Belanda di Pulau Damar

Oleh: ikanbijak | September 18, 2014

Menikmati Wisata Bahari di Pulau Umang

Umang atau kumang adalah binatang laut yang sering dijadikan mainan oleh anak-anak dengan cat berwarna-warni. Bentuk bangunan yang bulat di Pulau Umang adalah penggambaran atas nama Pulau Umang, salah satu pulau kecil di ujung tanah Jawa, tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kini, pulau kecil ini disulap menjadi objek wisata yang sudah menasional, yang dicerminkan tiap weekend banyak dikunjungi wisatawan, khususnya mereka yang tinggal di seputaran jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Hamparan PAsir Pulau Oar

hamparan pasir Pulau Oar

dermaga Pulau Umang

dermaga Pulau Umang

Pukul 09.00 WIB kami tiba di dermaga penyeberangan Pantai Sumur-Pulau Umang, dimana kami melaporkan terlebih dahulu kepada petugas darat untuk berkunjung ke Pulau Umang. Biayanya cukup murah, yaitu Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) per trip (bolak-balik) dengan mendapatkan fasilitas wellcome drink. Perahu bergerak lambat, karena memang tidak membutuhkan waktu lama untuk menyebrang. Saat itu, matahari matahari bersinar terik, tanpa ada kumpulan awan yang coba menghalanginya. Tentu saja, ini memasuki bulan Agustus yang biasanya langit jarang menurunkan hujan alias musim kemarau, sehingga ditemukan kumpulan awan tipis dengan latar belakang hamparan langit biru.

Karena bulan Agustus mulai berhembus angin selatan, maka angin berhembus kuat dan menciptakan arus laut yang mampu mengombang-ambingkan perahu sampan yang kami tumpangi. Namun sebagai anak pantai, kami sekeluarga sudah terbiasa, dan tidak perlu takut, kecuali musim barat yang terjadi pada bulan November-Februari, yang angin serta ombaknya mampu menenggelamkan kapal.

Tidak lebih dari 20 menit, kami berhasil menginjakkan kaki di Pulau Umang. Ketika menginjakkan kaki di dermaga pulau ini, terlihat para wisatawan sedang berenang di kolam renang yang terdapat di depan bangunan berbentuk kumang berwarna putih, salah satu ikon pulau ini. Pola bangunan cottage di Pulau Umang tersebar mengelilingi pinggiran pulau, dimana diantara bangunan cottage tersebut terdapat bangunan kecil beratapkan ijuk sebagai sarana berteduh untuk menikmati keindahan pulau.

Dengan luasan yang hanya 5 hektar, pengunjung tidak memerlukan waktu lama untuk berkeliling. Bagi mereka yang tidak tahan panas, pengelola membuatkan jogging track yang mengeliling pulau yang dinaungi pepohonan vegetasi pantai, sehingga suanana teduh dan nyaman melupakan perjalanan berkeliling pulau.

Menjelang waktu magrib, disinilah lokasi terbaik untuk menikmati detik-detik matahari tenggelam (sunset), dimana matahari lenyap ditelah laut yang meninggalkan warna orange di ufuk barat, yang beberapa menit kemudian menghasilkan warna biru yang sangat indah (blue hour). Disinilah momen terbaik bagi para fotografer untuk mengabadikan fenomena alam yang jamak terjadi. Sementara itu, tidak jauh dari Pulau Umang terdapat Pulau Oar yang menjadi lokasi favorit untuk berenang dan snorkeling, serta menikmati fasilitas wisata banana boat berkeliling pulau.

Oleh: ikanbijak | September 17, 2014

Wonderful Indonesia : Jangan Mati Sebelum ke Raja Ampat

“kamu pernah berkunjung ke Thailand?”

“Bukan, ini bukan Phi Phi Island-Thailand yang menjadi lokasi film Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio….”

Itulah pertanyaan yang kerap terucap, ketika saya menayangkan profil picture di laptop yang bergambar bentangan alam Pulau Wayag, Kabupaten Raja Ampat. Sepintas, Pulau Wayag sama dengan Phi Phi Island. Namun bila kita membandingkan secara seksama, Pulau Wayag jauh lebih indah dengan ratusan jenis karang yang dijadikan tempat hidupnya ribuan jenis ikan karang dan belasan jenis mamalia laut, termasuk paus, lumba-lumba dan duyung. Bahkan, The Nature Conservacy (TNC) dan Conservation International (CI) merilis data bahwasanya 75 persen spesies laut dunia berada di perairan Kabupaten Raja Ampat. Oleh karenanya sangat wajar, bila Kabupaten Raja Ampat yang membentang 46.108 km2 ini ditasbihkan sebagai mega biodiversity dunia untuk ekosistem air laut.

Wayag-2 Wayag   Keindahan bentangan alam yang disertai kekayaan sumberdaya hayati, menginspirasi Gubernur Papua Barat, Abraham Octavianus Aturury, dengan membuat kalimat yang penuh provokatif, yaitu “Jangan mati sebelum berkunjung ke Raja Ampat”. Sungguh suatu pemilihan untaian kata yang tepat, untuk menggiring publik beramai-ramai berkunjung ke Raja Ampat. Dalam berbagai kesempatan, baik di billboard yang terpampang di Bandara Internasional Soekarno Hatta maupun dalam berbagai conference, Bapak Gubernur Papua Barat tersebut senantiasa mengeluarkan kalimat sakti itu untuk mempromosikan Sail Raja Ampat 2014, yang sudah berlalu beberapa bulan yang lalu.

Anjuran tersebut bukan tanpa alasan, kini, Raja Ampat menjadi salah satu destinasi terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Betapa tidak, laut biru yang tergradasi biru tua dan hijau tosca ditaburi ratusan pulau kecil yang didalamnya bersemayam ekosistem laut yang luar biasa, menjadi daya tarik wisatawan, khususnya dari luar negeri. Sungguh suatu kesempatan yang tiada terkira, ketika saya bertugas untuk melakukan pendampingan penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan yang ada di Kabupaten Raja Ampat setahun yang lalu.

Saat itu, menjelang pukul 06.00 WIT (waktu Indonesia bagian timur), kami bergegas menuju dermaga speedboat yang tepat berada di mulut muara. Perjalanan pagi sengaja kami tempuh, guna menghindari gelombang besar di siang hari dan kamipun harus kembali pada hari yang sama. Pergerakan perahu-perahu kecil sudah terlihat keluar-masuk muara, sementara aktivitas pasar ikan tradisional di lokasi pendaratan ikan sudah mulai berdenyut.

Dengan kecepatan penuh, sang nakhoda menarik tuas pedal gas untuk melarikan speedboat berbahan fiberglass. Tujuan utama kami adalah Pulau Lage Peley atau yang lebih tenar dikenal dengan sebutan Pulau Wayag, salah satu lokasi Suaka Alam Perairan yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh pulau-pulau karst, sehingga waktu tempuh 5-6 jam tidak membuat kami tertidur atau bosan. Setiap mil yang kami lalui, senantiasa terdapat keindahan-keindahan alam baik yang ada di permukaan maupun bawah air yang tak luput kami abadikan melalui mata kamera.

Tepat pukul 12.00 WIT, kami tiba di salah satu pulau yang menjadi basecamp pos jaga Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bekerjasama dengan TNC dan NGO lokal dalam mengawasi setiap menit kegiatan yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan di kawasan konservasi perairan ini. Setelah berkoordinasi, kamipun melanjutkan ke salah satu spot terbaik di Pulau Lage Peley untuk menikmati langit biru dengan bukit-bukit karst yang menjulang di setiap daratan pulau-pulau kecil.

Setiba di gugusan pulau kecil ini, mata kami terkesima, seakan-akan surga telah bocor dan memuncratkan keindahannya di gugusan Pulau Lage Peley. Sungguh suatu panorama alam yang luar biasa yang selama ini hanya bisa saya nikmati di televisi, iklan, koran, majalah dan internet yang memajang pulau-pulau berbentuk kerucut ini. Untuk menikmati perairan biru tua bergradasi hijau tosca, sang nakhoda mengantar kami berkeliling untuk menikmati nirwana di ujung barat Papua.

Setelah berpuas diri dengan berputar-putar diatas air yang jernih, kami diajak memanjat salah satu tebing bukit karst yang tenar dikenal dengan sebutan Pindito. Suatu pendakian yang cukup melelahkan dengan kemiringan 60-70 persen, namun hal itu akan terbayar setelah kita mencapai puncak. Setelah peluh mengucur deras, setiba diatas bukit karst, terlihat bentangan alam yang sangat sempurna. Sekeliling mata memandang, terhampar laut biru bergradasi hijau tosca yang ditebari warna hijau dari pepohonan yang tumbuh dari puluhan pulau-pulau kecil dengan latar belakang langit biru. Enggan rasanya meninggalkan karya Tuhan yang indah ini. Namun kami harus melanjutkan patroli ke wilayah lain, sehingga setelah berpuas diri memanjakan kamera dengan lensa wide terpasang, kamipun menuruni bukit karst yang entah kapan saya bisa kembali ke tempat ini.

Raja Ampat bukan hanya Pulau Lage Peley atau yang orang kenal dengan sebutan Pulau Wayag, karena masih terdapat lokasi lain yang sangat untuk dilewatkan ketika menginjakkan kaki kabupaten kepulauan ini. Salah satunya adalah Piyainemo, pendatang baru dalam wisata bahari di Kabupaten Raja Ampat. Bentang alamnya yang mirip Pulau Lage Peley (Wayag), maka ditasbihkanlah bahwa Piyainemo adalah miniatur Wayag. Kini, Pianinemo menjadi alternatif wisata di Kabupaten Raja Ampat, karena jarak tempuh dari ibukota Waisai hanya memerlukan waktu 2 jam yang tentu saja akan berpengaruh terhadap biaya sewa speedboat. Untuk menikmati keindahan bentangan alam Pulau Piyainemo, jangan malas untuk mendaki bukit Telaga Bintang. Kesamaan bukit Telaga Bintang di Piyainemo dengan Pindito di Wayag adalah ujung-ujung karang yang tajam yang mampu merobek telapak kaki yang tanpa alas, sehingga setiap pengunjung yang akan ke Wayag atau Piyainemo, siapkanlah sepatu trek yang nyaman untuk mendaki bukit kecil.

Untaian kata tidak akan cukup memaparkan keindahan wisata Raja Ampat dan jepretan kamera tidak akan pernah bosan untuk merekam setiap detik perjalanan yang sangat mendebarkan. Pulau Wayag dan Pulau Piyainemo adalah cipratan kecil keindahan surga yang patut menjadi agenda kunjungan wisata selama hidup. Jangan mati sebelum ke Raja Ampat. Andaikan Leonardo Di Caprio mengenal lebih awal Raja Ampat, pasti dia akan meminta pembuatan film Beach dilakukan di gugusan nirwana bagian barat Papua, Raja Ampat. Surga kecil yang sudah mendunia.

Oleh: ikanbijak | Agustus 31, 2014

Universitas Terbuka dan Pemerataan Pendidikan Tinggi

Pendidikan adalah solusi dalam pembangunan bangsa. Karena dengan pendidikan lah suatu bangsa dapat dibangun secara berkelanjutan. Namun apa lacur, angka partisipasi pendidikan penduduk Indonesia masih rendah. Terlebih angka partisipasi kuliah (APKul) yang hanya mencapai 16,13 persen (BPS, 2013). Artinya, Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi.

Secara parsial, sebenarnya APKul di beberapa provinsi sudah relatif tinggi, meski belum menembus angka 50 persen. Kelima provinsi yang memiliki APKul cukup besar, yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (44,18 persen), Maluku (29,39 persen), Aceh (28,79 persen), Sumatera Barat (27,80 persen), dan Sulawesi Tenggara (23,95 persen) (www.kangatepafia.com).

Salah satu penyebab rendahnya APKul tersebut adalah angka kelulusan Sekolah Lulusan Tingkat Atas (SLTA) yang juga masih rendah. Oleh karenanya sangat wajar bila Human Development Index (HDI) Indonesia hanya menempatkan pada urutan ke-108, yaitu tergolong medium human development. Hal ini kalah jauh sama negara-negara tetangga ASEAN lainnya, seperti Singapura (9), Brunei Darussalam (30), Malaysia (62), dan Sri Langka (73).

Dengan demikian, sudah sewajarnya Indonesia segera menata diri sistem pendidikan tinggi. Hal ini sesuai amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), dimana pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) kedua Tahun 2010-2014 angka partisipasi diharapkan meningkat menjadi 25 persen. Dan meningkat secara bertahap hingga mampu mewujudkan cita-cita RPJPN sampai Tahun 2025. Sungguh cita-cita suci mewujudkan Indonesia bermartabat.

Untuk itu, keberadaan Universitas Terbuka (UT) diharapkan mampu meningkatkan APKul Indonesia. Mengingat, geografis Indonesia berbentuk kepulauan sehingga pendekatan penyelenggaraannya pun seharusnya mengadopsi karakteristik kepulauan tersebut. Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan tinggi yang tertuang dalam dokumen Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI), bahwa pendidikan tinggi terdiri dari: (1) pendidikan akademik yang memiliki fokus dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan (2) pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada persiapan lulusan untuk mengaplikasikan keahliannya.

Dengan demikian, Universitas Terbuka di setiap daerah diharapkan menyesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Hal ini dalam rangka mengoptimalkan potensi dengan cara peningkatan nilai tambah produk. Hal ini sesuai dengan visi Universitas Terbuka, yaitu pada tahun 2021, UT menjadi institusi PTTJJ berkualitas dunia dalam menghasilkan produk pendidikan tinggi dan dalam penyelenggaraan, pengembangan, dan penyebaran informasi PTTJJ. Oleh karena itu, penyelenggaraan program studi kelautan dan perikanan harus menjadi perhatian penyelenggara sistem pendidikan tinggi di Universitas Terbuka. Terlebih, di era kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang mengarusutamakan pembangunan maritim. Sehingga tidak salah bila Universitas Terbuka membuka program studi kelautan dan perikanan di Strata Satu (S1). Akankah penyelenggara Universitas Terbuka mengambil peluang ini dalam menciptakan pemerataan pendidikan tinggi di negeri bahari Indonesia? Semoga.

Sumber:

http://www.kangatepafia.com/2013/08/tingkat-partisipasi-kuliah-di-jawa.html

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.