Oleh: ikanbijak | Oktober 31, 2014

Program Cubluk Untuk Desa Sehat

Di tengah keasrian, suasana pedesaan menyimpan permasalahan laten yang masih terjadi hingga saat ini. Ironisnya hal itu masih terjadi di era digital sekarang ini. Sanitasi lingkungan pedesaan yang dihadapkan pada ancaman kesehatan warga yang disebabkan oleh kebiasaan warga “buang hajat” di kebun. Tentu saja, kebiasaan tersebut berdampak terhadap kesehatan seluruh warga desa. Terlebih ketika musim penghujan tiba.
Atas bencana laten tersebut, apakah warga desa dihadapkan pada permasalahan kemiskinan sehingga mereka tidak mampu membangun penampungan kotoran manusia? Atau mereka tidak peduli atas kebiasaan buruk yang dilakukan selama ini? Atau kurangnya program-program rekayasa sosial (social enginering) untuk mengubah perilaku buruk tersebut? Terlepas dari semua pertanyaan itu, sanitasi lingkungan kesehatan pedesaan harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen, khususnya pemerintah.

Kompleksitas Permasalahan
Sebagaimana disebutkan di atas, masalah sanitasi desa yang disebabkan kebiasaan buruk buang hajat tidak hanya terjadi di pedesaan pertanian, akan tetapi juga pedesaan pesisir. Bedanya warga desa pertanian buang hajat di semak-semak, warga desa pesisir melakukannya secara terbuka di pinggir pantai atau dermaga. Jadi, semakin panjang pantai, maka semakin panjang pula WC alami desa.
Sementara persamaannya adalah bencana wabah diare yang senantiasa dapat menyerang warga setiap saat secara massal. Selain itu, wabah lainnya adalah penyakit kulit (gatal-gatal). Tentu saja, ketidaknyamanan bau adalah hal yang sangat mengganggu keseharian warga.
Kebiasaan buruk buang hajat masyarakat pedesaan sangat kompleks. Pertama, aspek ekonomi. Alasan utama warga buang hajat di kebun atau pantai karena tidak mampu membangun jamban atau WC. Mengingat rumah warga umumnya rumah panggung atau bilik. Kedua, aspek budaya. Faktor kedua ini terjadi secara turun-temurun dan menjadi kebiasaan lumrah yang dilakukan warga tanpa rasa malu. Bahkan, penulis sempat bertanya tentang budaya buang hajat di ruang terbuka ketika melakukan pendampingan di desa pesisir, alasannya cukup menggelitik, bahwa mereka tidak bisa buang hajat kalau tidak terkena air laut. Sungguh suatu jawaban yang tidak masuk akal, namun itu fakta.
Ketiga, aspek norma, dimana Pemerintah Desa tidak sadar untuk mengatur kebiasaan warganya yang melakukan buang hajat di ruang terbuka. Padahal, Pemerintahan Desa yang dalam hal ini Kepala Desa beserta aparaturnya bersama Badan Perwakilan Desa (BPD) dapat menyusun aturan lokal melalui Peraturan Desa tentang Sanitasi Lingkungan Sehat Pedesaan. Keempat, kurangnya dukungan program pemerintah. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan anggaran dalam membuat WC publik.

Menuju Desa Sehat
Program pembangunan desa sehat harus dilakukan secara perlahan dan berkelanjutan, yang disertai dukungan dana baik yang berasal dari pemerintah maupun pihak ketiga (swasta atau lembaga swadaya masyarakat). Salah satu program yang harus diperhatikan adalah pembangunan cubluk secara massal.
Cubluk adalah lubang/sumuran yang dibuat dengan menggali tanah dengan dinding yang merembes air. Jadi cubluk merupakan suatu lubang yang digunakan untuk menampung air limbah manusia dari jamban, berfungsi sebagai tempat pengendapan tinja dan juga media peresapan dari cairan yang masuk (http://www.dimsum.its.ac.id). Menurut artikel yang terdapat dalam http://sanitasi.or.id, bahwa cubluk berbeda dengan septic tank. Dimana sistem cubluk biasanya dilengkapi dengan kloset leher angsa, bahkan ada yang menggunakan kloset duduk. Dengan adanya kloset tersebut, memungkinkan bau tidak menyebar dan mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lainnya di dalam perpipaan atau ruang cubluk itu sendiri. Sementara Sistem septic tank merupakan tangki berbentuk empat persegi panjang atau bulat. Konstruksi dibangun di bawah tanah sehingga air bekas dari kakus, kamar mandi, kamar cuci, dapur dan air bekas bisa dialirkan ke dalam tangki tersebut. Tangki ini berfungsi mengolah air limbah tersebut agar tidak berbahaya bagi lingkungan.
Terlepas perbedaan antara cubluk dan septic tank tersebut, perlu proses social enginering untuk masyarakat pedesaan dalam mewujudkan desa sehat. Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, pemerintah harus menggaet pihak swasta dalam rangka mencairkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility). Tentu saja, program pembangunan cubluk harus diawali dengan gerakan penyadaran tentang budaya hidup sehat, yang dalam hal ini pemerintah bisa mengajak LSM dan perguruan tinggi.
Sementara itu, supaya lebih bermanfaat, program cubluk bisa disinergikan dengan program lainnya yang tidak kalah penting, yaitu pemanfaatan gas buangan kotoran untuk energi dan pembuatan kompos untuk pupuk alam. Akankah Indonesia dapat mewujudkan Desa Sehat di seluruh nusantara? Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: