Oleh: ikanbijak | Agustus 31, 2014

Universitas Terbuka dan Pemerataan Pendidikan Tinggi

Pendidikan adalah solusi dalam pembangunan bangsa. Karena dengan pendidikan lah suatu bangsa dapat dibangun secara berkelanjutan. Namun apa lacur, angka partisipasi pendidikan penduduk Indonesia masih rendah. Terlebih angka partisipasi kuliah (APKul) yang hanya mencapai 16,13 persen (BPS, 2013). Artinya, Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi.

Secara parsial, sebenarnya APKul di beberapa provinsi sudah relatif tinggi, meski belum menembus angka 50 persen. Kelima provinsi yang memiliki APKul cukup besar, yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (44,18 persen), Maluku (29,39 persen), Aceh (28,79 persen), Sumatera Barat (27,80 persen), dan Sulawesi Tenggara (23,95 persen) (www.kangatepafia.com).

Salah satu penyebab rendahnya APKul tersebut adalah angka kelulusan Sekolah Lulusan Tingkat Atas (SLTA) yang juga masih rendah. Oleh karenanya sangat wajar bila Human Development Index (HDI) Indonesia hanya menempatkan pada urutan ke-108, yaitu tergolong medium human development. Hal ini kalah jauh sama negara-negara tetangga ASEAN lainnya, seperti Singapura (9), Brunei Darussalam (30), Malaysia (62), dan Sri Langka (73).

Dengan demikian, sudah sewajarnya Indonesia segera menata diri sistem pendidikan tinggi. Hal ini sesuai amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), dimana pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) kedua Tahun 2010-2014 angka partisipasi diharapkan meningkat menjadi 25 persen. Dan meningkat secara bertahap hingga mampu mewujudkan cita-cita RPJPN sampai Tahun 2025. Sungguh cita-cita suci mewujudkan Indonesia bermartabat.

Untuk itu, keberadaan Universitas Terbuka (UT) diharapkan mampu meningkatkan APKul Indonesia. Mengingat, geografis Indonesia berbentuk kepulauan sehingga pendekatan penyelenggaraannya pun seharusnya mengadopsi karakteristik kepulauan tersebut. Hal ini sesuai dengan sistem pendidikan tinggi yang tertuang dalam dokumen Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI), bahwa pendidikan tinggi terdiri dari: (1) pendidikan akademik yang memiliki fokus dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan (2) pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada persiapan lulusan untuk mengaplikasikan keahliannya.

Dengan demikian, Universitas Terbuka di setiap daerah diharapkan menyesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Hal ini dalam rangka mengoptimalkan potensi dengan cara peningkatan nilai tambah produk. Hal ini sesuai dengan visi Universitas Terbuka, yaitu pada tahun 2021, UT menjadi institusi PTTJJ berkualitas dunia dalam menghasilkan produk pendidikan tinggi dan dalam penyelenggaraan, pengembangan, dan penyebaran informasi PTTJJ. Oleh karena itu, penyelenggaraan program studi kelautan dan perikanan harus menjadi perhatian penyelenggara sistem pendidikan tinggi di Universitas Terbuka. Terlebih, di era kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang mengarusutamakan pembangunan maritim. Sehingga tidak salah bila Universitas Terbuka membuka program studi kelautan dan perikanan di Strata Satu (S1). Akankah penyelenggara Universitas Terbuka mengambil peluang ini dalam menciptakan pemerataan pendidikan tinggi di negeri bahari Indonesia? Semoga.

Sumber:

http://www.kangatepafia.com/2013/08/tingkat-partisipasi-kuliah-di-jawa.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: