Oleh: ikanbijak | Juli 4, 2014

Membangun Pondasi Kelautan Indonesia

Pemikiran tol laut yang menimbulkan perdebatan, hanya menyisakan mimpi yang diyakini tak akan pernah terjadi. Mengingat, pembangunan kelautan Indonesia memerlukan suatu pondasi yang kuat, yang hanya bisa dilakukan oleh pemimpin tegas. Oleh karenanya, hanya pemimpin yang memiliki ocean leadership yang mampu membawa harapan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menjadi negara besar.
Untuk itu, apakah Indonesia memerlukan sosok manajer atau pemimpin? Apakah Indonesia memerlukan sosok pemimpin yang bisa bekerja atau pemimpin yang bisa memimpin? Kedua pertanyaan tersebut mengarah kepada pasangan Prabowo-Hatta, karena keduanya merupakan sosok pemimpin, bukan manajer dan tentu saja pemimpin yang bisa memimpin. Hal ini tercermin dari visi dan misi maritim koalisi Merah-Putih.
Kita paham, bahwa kelautan Indonesia selama ini menjadi sektor pinggiran (pheriperal sector) dalam pembangunan nasional. Padahal, kelautan memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan dalam membangun perekonomian nasional. Lebih dari itu, kelautan menjadi terpuruk karena kompleksitas permasalahan, khususnya konflik peraturan perundang-undangan yang berujung pada konflik kelembagaan.
Bagaimana membangun kelautan yang besar, kalau dalam prosesnya dikacaukan oleh konflik ego-sektoral. Untuk itu, visi dan misi Prabowo-Hatta akan menjadi obat yang tepat bagi Negara Kepulauan Indonesia yang besar ini. Visi maritim pasangan Prabowo-Hatta, yaitu “merancang dan membangun Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat, bermartabat dan berdaya saing”. Berdaulat, artinya pasangan Prabowo-Hatta akan memanfaatkan potensi kelautan yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Sementara bermartabat, artinya pasangan Prabowo-Hatta akan menempatkan para pelaku usaha kelautan, khususnya nelayan sebagai pelaku utama dalam pembangunan perikanan berkelanjutan. Sedangkan berdaya saing, artinya pasangan Prabowo-Hatta akan berjuang sekuat tenaga menciptakan potensi kelautan yang ada mampu bersaing dengan produk masyarakat internasional. Sungguh suatu visi yang memperhatikan permasalahan internal (domestik) dan sekaligus permasalahan internasional.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Prabowo-Hatta memulainya dengan membenahi pondasi kelautan Indonesia yang sangat rapuh. Adapun langkah pertamanya adalah membuat ocean policy (Kebijakan Kelautan Indonesia) yang merupakan pondasi dalam membangun Indonesia manjadi negara maritim melalui sinkronisasi kebijakan-kebijakan yang sudah ada dan membuat kebijakan lain untuk melengkapi landasan hukum dalam membangun Indonesia menjadi negara maritim. Langkah pertama ini sangat tepat, karena kelautan Indonesia dihadapkan pada konflik kepentingan antar sektor, sehingga perlu sebuah dokumen yang jelas sebagai panduan pembangunan kelautan secara berkelanjutan.
Setelah membuat dokumen ocean policy, pasangan Prabowo-Hatta akan membuat grand design pembangunan maritim dan merestruksturisasi lembaga negara yang akan melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut. Hal ini sebagaimana pemikiran pasangan Prabowo-Hatta yang tertulis dalam http://www.mediaprabowo.com. Setidaknya terdapat 10 prioritas yang akan dibangun oleh pengusung Garuda Merah ini, yaitu (1) penyusun tata kelola laut dalam konsepsi negara maritim; (2) pengembangan IPTEK maritim; (3) pengembangan infrastruktur maritim; (4) pemerataan pembangunan industri dan jasa maritim di seluruh wilayah NKRI; (5) pembangunan sistem transportasi laut yang sinkron dengan sistem logistik nasional; (6) pembangunan sistem pertahanan dan keamanan maritim yang tangguh dan berkelas dunia; (7) pengembangan perikanan laut yang berdaya saing; (8) optimalisai potensi migas dan mineral di laut serta ocean energy; (9) pelestarian lingkungan maritim; dan (10) pembangunan sistem mitigasi bencana sebagai konsekuensi Indonesia berada pada ring of fire.
Berdasarkan paparan visi dan misi pasangan Prabowo-Hatta tersebut, terlihat bahwa keduanya memahami jati diri Indonesia sebagai bangsa bahari. Akankah pasangan Prabowo-Hatta akan membawa Indonesia sejajar dengan negara maritim lainnya? Kita akan buktikan, ketika terpilih nanti. Untuk itu, jadilah pemilih yang cerdas dengan memilih pemimpin yang tegas dan memiliki visi, bukan pemimpin pekerja, karena Presiden bukanlah pekerja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: