Oleh: ikanbijak | April 7, 2014

Karena Korupsi, Aku Pilih Caleg Perempuan

Keterpurukan bangsa sekarang ini tidak dapat dilepaskan dari borok korupsi yang sudah menjadi penyakit laten yang merusak tatanan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Akibat korupsi, pembenahan dan peningkatan sistem pendidikan menjadi terabaikan, sehingga kita tertinggal jauh oleh negara tetangga yang dulunya belajar ke Indonesia. Bahkan, akibat korupsi, bangsa yang memiliki kekayaan alam ini masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan ketidakberdayaan. Oleh karena itu, untuk menuntaskan kompleksitas permasalahan kebangsaan yang disebabkan penyakit korupsi, diperlukan keseriusan pemberantasan korupsi yang dilakukan secara berkelanjutan dan masif.

Harapan tersebut di atas dapat terwujud bila parlemen diisi oleh mayoritas perempuan. Meski terdapat beberapa anggota legislatif perempuan yang tersangkut kasus korupsi, namun secara global, kaum adam-lah yang paling dominan. Hal ini sebagaimana yang dipaparkan oleh politisi Partai Golongan Karya (Golkar), Nurul Arifin, bahwa anggota legislatif perempuan tidak menerima apa yang tidak menjadi haknya. Bahkan, belajar dari pengalaman negara barat, banyaknya anggota legislatif perempuan yang duduk di parlemen berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan negaranya (Kompas, 3 Maret 2009).

Dengan demikian, calon legislatif (caleg) perempuan harus menjadi pilihan pertama guna mewujudkan Indonesia yang besar dan bermartabat. Namun demikian, keberadaan srikandi-srikandi di parlemen dihadapkan pada beberapa kendala. Pertama, metode pemilu masih menggunakan suara terbanyak, sehingga caleg perempuan akan kalah bersaing dengan caleg laki-laki karena ketiadaaan basis sosial yang disebabkan oleh kesempatan mereka di ruang publik. Kedua, kendala kultural/ideologis, dimana pemilih masih belum yakin dengan kiprah perempuan. Selain itu, caleg perempuan terkendala akses ekonomi yang terbatas, sementara biaya politik sangat tinggi. Ketiga, pemenuhan kuota 30 persen perempuan tidak memperhatikan kualitas. Partai politik tidak serius menempatkan perempuan sebagai alat perubahan bangsa, karena mereka menempatkan caleg perempuan hanya untuk memenuhi aturan 30 persen tanpa disertai dengan seleksi kompetensi yang ketat. Oleh karenanya sangat wajar bila perempuan di parlemen senantiasa tidak mencapai target 30 persen.

Selain kendala di atas, hal lain yang perlu diperhatikan sebagai istri dari suami dan ibu bagi anak-anak, maka caleg perempuan harus berperan dalam membangun keluarga yang sehat. Terlebih pendidikan karakter anak-anak sebagai generasi penerasi bangsa. Mengingat, keluarga adalah benteng utama bagi membangun jati diri anak yang berakhlak. Bukan sebaliknya, aktivitas politik menjauhkan anggota legislatif perempuan dari anak-anaknya sehingga pendidikan mereka terabaikan.

Sebagai penutup tulisan, dalam rangka mewujudkan pembangunan bangsa yang besar dan bermartabat, mari kita dukung caleg perempuan untuk merebut dominasi kaum adam yang penuh dengan ketamakan dan egoisme. Caleg perempuan cerdas, Indonesia tidak akan kandas. Caleg perempuan terpilih, Indonesia tidak akan tersisih. Akankah pemilih cerdas memilih caleg perempuan? Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: