Oleh: ikanbijak | April 7, 2014

Caleg Perempuan, Memperempuan-kan Perempuan

Di sudut pasar yang ramai, seorang ibu berputar-putar mencari tempat yang sepi untuk memberikan ASI (air susu ibu) kepada sang buah hati. Sayangnya, sang ibu tidak menemukan tempat itu. Alhasil, demi memberikan susu terbaiknya buat sang generasi penerus, si ibu memberanikan diri memasuki salah satu toko yang kebetulan sedang sepi pengunjung.

Setidaknya, itulah salah satu contoh fakta yang kerap kita temukan, bahwa negeri ini belum ramah terhadap kaum hawa. Apakah ini bentuk ketidak-pedulian sistem bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang didominasi kaum adam? Akankah pembiaran seperti ini terus berlanjut dan berulang? Jawabannya tidak, untuk itu, dalam rangka memperempuankan kaum perempuan, maka sistem pemerintahan harus diisi oleh calon legislatif (caleg) perempuan.

Ketidak-ramahan ruang publik tidak hanya terjadi di pasar, akan tetapi juga di sektor transportasi. Hampir seluruh kota di Indonesia, belum memperhatikan kenyamanan perempuan dalam melakukan perjalanan sebagaimana yang ada di Jakarta. Seperti Trans Jakarta yang bagian depannya dikhususkan kaum perempuan, dan begitu juga kereta JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) yang memiliki gerbong khusus perempuan (gerbong depan dan belakang).

Oleh karena itu, dalam rangka memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, maka caleg perempuan harus memahami kebijakan publik. Dengan kata lain, selain memahami isu dan permasalahan perempuan dan anak, caleg perempuan harus memahami isu dan permasalahan publik secara lebih luas, seperti pendidikan, kesehatan, dan ketenegakerjaan.

Di tengah ketidak-percayaan masyarakat kepada politisi yang terjebak kasus korupsi dan amoral di parlemen, caleg perempuan diharapkan mampu merebut suara, khususnya suara yang mengambang (floating mass). Untuk itu, caleg perempuan harus mampu membuat program-program yang cerdas dan solutif untuk memberikan keyakinan kepada para pemilih, baik pemilih laki-laki maupun perempuan. Selain itu, untuk meyakinkan kaum pemilih, caleg perempuan juga harus mampu berperan sebagai ibu dan istri yang baik di keluarganya. Dengan kata lain, kewajiban-kewajiban yang melekat sebagai istri dan ibu dari suatu keluarga harus mampu dijalankan secara seimbang. Mengingat, keberhasilan membangun keluarga yang sehat adalah panutan bagi lingkungan sekitar, bahkan lingkungan yang lebih luas. Akankah kaum perempuan merebut hak-hak yang selama ini termarginalkan? Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: