Oleh: ikanbijak | Maret 16, 2011

Bermula dari “Titik Balik”

Bermula dari “Titik Balik”
Oleh : Akhmad Solihin

Setiap berkunjung ke Gramedia, bagian pertama yang saya datangi adalah deretan kotak yang bertuliskan “Buku Baru”. Tentu saja, namanya juga buku baru, pastinya dalam tumpukan kotak tersebut berjejer buku baru yang memikat perhatian. Saat itu, mata saya langsung tertuju pada sebuah buku dengan cover seorang anak muda mengepalkan tangannya menaiki perahu yang sedang diombang-ambing gelombang di tengah lautan.
Sungguh suatu cover yang sangat memikat, karena cover tersebut seakan-akan ingin menyampaikan pesan kepada calon pembacanya bahwa buku tersebut pantas dikonsumsi publik dari semua golongan dan jenis kelamin, karena berisi cerita anak manusia yang berjuang mengarungi kerasnya dan kejamnya kehidupan di dunia ini. Sementara itu, pada cover yang sangat bagus tersebut, tertulis “Titik Balik: Menerjang Rintangan Menggapai Masa Depan”. Kombinasi gambar dan judul yang tertulis pada cover tersebut, adalah perpaduan yang sangat menarik, sehingga tangan saya gatal untuk membelinya dan mata saya lapar untuk mengunyah isi buku dari satu cerita ke cerita berikutnya.
Itulah awal perkenalan saya setahun yang lalu dengan buku terbitan Leutika, suatu perkenalan yang tidak disengaja, namun membekas dalam benak saya. Betapa tidak, buku yang berisi kumpulan 18 cerita tersebut mampu menyadarkan saya tentang arti memaknai hidup dan kehidupan. Dan saya meyakini, bahwa pembaca yang lain juga akan merasakan hal yang sama, betapa tegarnya orang-orang yang diceritakan dalam buku tersebut dalam berjuang mengarungi kerasnya cobaan hidup yang ditimpakan Allah kepadanya.
Atas terbitnya buku “Titik Balik”, dua jempol saya acungkan untuk Leutika, bukan hanya pada kualitas cerita yang disuguhkan oleh para penulis. Akan tetapi lebih dari itu, kemampuan Leutika dalam mengumpulkan para penulis seantero Indonesia itulah yang patut diapresiasi. Terlebih, kemampuan menghadirkan penulis pemula dalam ranah dunia penerbitan yang terkesan susah. Kesempatan ini jarang dihadirkan oleh penerbit-penerbit mapan dan besar kepada penulis pemula atau amatir. Hal ini sebagaimana salah satu misi penerbit Leutika, yaitu mengakomodir para penulis muda berbakat yang memiliki ide serta gagasan yang baru dan menyegarkan. Namun demikian, bukan berarti karangan penulis pemula yang asal jadi atau kacangan yang diterbitkan, karena Leutika mempunyai slogan “Bukan Penerbit Buku Biasa”. Artinya, meski Leutika mengakomodir penulis muda, namun yang dipilih adalah mereka yang berbakat, hal ini dalam rangka menjunjung tinggi slogan “Bukan Penerbit Buku Biasa”.
Dengan demikian, awal perkenalan saya dengan Leutika melalui cerita yang dituangkan dalam buku “Titik Balik”, semakin memotivasi saya untuk lebih bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan selama ini. Selain itu, penerbitan buku “Titik Balik” yang merupakan kumpulan 18 karya terbaik dari 265 naskah lomba yang masuk, memotivasi saya untuk lebih meningkatkan kemampuan menulis, khususnya di bidang fiksi. Oleh karena itu, saya berharap, Leutika senantiasa menyelenggarakan lomba-lomba sejenis dengan topik yang berbeda, sehingga akan menciptakan kultur menulis di bumi nusantara Indonesia.
Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-2 untuk Leutika. Terima kasih untuk kesempatannya bagi penulis muda. Meski masih “Balita”, karyanya luar biasa karena slogan Leutika “Bukan Penerbit Buku Biasa”.

Bogor, 16 Maret 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: