Oleh: ikanbijak | Maret 1, 2009

Nelayan Paceklik Lebih Panjang

Nelayan Paceklik Lebih Panjang
Akhmad Solihin
Sumber Tulisan : Koran Sinar Harapan, 27 Februari 2009

Hingga akhir Maret, kehidupan nelayan di beberapa wilayah pesisir Indonesia akan terancam. Ini disebabkan datangnya musim paceklik atau yang dikenal masyarakat nelayan sebagai “musim barat”, di mana datangnya gelombang besar disertai dengan hujan dan angin. Tentu saja, semua ini terkait dengan keterbatasan teknologi armada tangkap nelayan dalam melakukan penangkapan ikan, sehingga mereka harus mengalah kepada kehendak alam tersebut.

Ironisnya, dengan berkaca kepada musim paceklik yang terjadi pada beberapa tahun terakhir, nampaknya kehidupan masyarakat nelayan akan senantiasa berada dalam kungkungan jebakan kemiskinan. Betapa tidak, musim paceklik yang biasanya terjadi selama tiga bulan (Januari-Maret) kini bertambah panjang. Masyarakat nelayan bagan apung di pesisir Ujung Kulon-Pandeglang Banten beberapa tahun terakhir merasakan musim paceklik hingga bulan April.

Musim paceklik yang terjadi pada musim barat adalah “kutukan” tahunan yang harus diterima masyarakat nelayan, terlebih nelayan kecil. Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, tingkat penderitaan nelayan pada musim barat tidak lain disebabkan keterbatasan teknologi. Artinya, rendahnya penguasaan terhadap teknologi penangkapan ikan menyebabkan mereka harus tunduk pada cuaca yang tidak kondusif. Itu bukan kemauan nelayan, tetapi disebabkan ketidakmampuan mereka membeli alat tangkap yang ideal untuk dapat digunakan pada semua musim.

Fenomena sebab-akibat yang membuat nelayan miskin dapat dikatakan seperti lingkaran setan. Memang, kemiskinan nelayan tidak disebabkan oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks. Beberapa faktor tersebut di antaranya rendahnya sumber daya manusia (SDM), keterbatasan akses permodalan, sistem bagi hasil yang cenderung merugikan nelayan, kurangnya keberpihakan pemerintah, jaringan perdagangan ikan dikuasai pembeli, gaya hidup yang konsumtif, overfishing, dan fluktuasi mu-sim ikan.

Strategi Adaptasi

Hingga sekarang nelayan masih diposisikan sebagai masyarakat termiskin dari kelompok masyarakat miskin lainnya. Sungguh suatu fenomena yang mengiris hati, karena nelayan hidup di tengah kekayaan sumber daya ikan. Di te-ngah segala keterbatasannya, perubahan iklim global yang menyebabkan penambahan masa musim barat semakin memiskinkan masyarakat nelayan Indonesia. Namun demikian, karena terbiasa hidup dengan segala keterbatasan dan tekanan, masyarakat nelayan telah mempunyai strategi adaptasi untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan keluarganya.

Kusnadi (2006) mengungkapkan beberapa strategi adaptasi tersebut, di antaranya: Pertama, total football yang dilakukan semua anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Istri nelayan bekerja sebagai pembersih perahu/kapal yang baru mendarat, pekerja pada perusahaan dan industri rumah tangga pengolahan hasil ikan, pembuat jaring, pedagang ikan eceran, dan sebagainya. Begitu juga anak-anak nelayan yang membantu perekonomian keluarga dengan cara membersihkan perahu dan bekerja pada industri pengolahan ikan.

Kedua, membuat pranata-pranata tradisional, seperti pembentukan arisan dan simpan pinjam. Pranata tradisional ini bersifat lebih sederhana, fleksibel, dan adaptif terhadap kondisi sosial ekonomi lokal sehingga dapat diikuti oleh istri-istri nelayan, khususnya yang kurang mampu.

Ketiga, menciptakan, mengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan sosial yang telah membentuk suatu jaringan sosial. Fungsi jaringan sosial adalah untuk memudahkan anggota-anggotanya memperoleh akses ke sumber daya ekonomi yang tersedia di lingkungannya. Jaringan sosial dapat dibentuk berdasarkan basis kerabat, tetangga, pertemanan, atau campuran dari unsur-unsur tersebut.

Keempat, pemanfaatan lembaga pegadaian milik pemerintah dan swasta. Pegadaian merupakan salah satu sumber peminjaman keuangan bagi rumah tangga yang kurang mampu. Apabila dirasakan masih kurang, barang-barang yang berharga seperti perhiasan dan elektronik akan dijualnya, sehingga dikenal dengan sebutan “piring terbang” karena mereka juga akan menjual peralatan dapur dan sarana penangkapan ikan yang layak untuk dijual.

Kelima, diversifikasi pekerjaan. Pada musim paceklik, nelayan banyak yang beralih profesi menjadi tukang becak, buruh bangunan, kuli angkut dan sebagainya. Tentu saja, pilihan pekerjaan seperti ini disebabkan rendahnya SDM sehingga tidak ada pilihan lain. Fenomena ini akan lebih parah bila terjadi pada masyarakat nelayan yang terisolasi, di mana pilihan pekerjaan yang sedikit.

PR Pemerintah

Penderitaan masyarakat nelayan pada saat musim paceklik khususnya dan fenomena kemiskinan nelayan pada umumnya, harus senantiasa menjadi perhatian serius pemerintah. Hal ini karena desa pesisir yang berjumlah 8.090 memiliki Poverty Headcount Index (PHI) sebesar 0,3214 atau 32,14 persen. Dengan demikian, masyarakat pesisir Indonesia termasuk di dalamnya adalah masyarakat nelayan yang berjumlah 4.015.320 jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, 73,85 persen armada perikanan Indonesia adalah nelayan kecil (perahu tanpa mesin dan perahu motor tempel) yang hanya beroperasi di sekitar pesisir pantai atau hanya beberapa kilometer dari pantai.

Fenomena kemiskinan nelayan yang terjadi hingga sekarang ini bukanlah sesuatu yang ahistoris, karena kemiskinan nelayan tidak dapat dilepaskan dari sejarah kebijakan nasional tentang motorisasi perahu dan modernisasi teknologi penangkapan ikan pada awal tahun 1970-an, yang kemudian dikenal dengan istilah program Revolusi Biru (blue revolution). Dalam perspektif ekonomi, program ini dapat dikatakan berhasil karena mampu meningkatkan angka produksi perikanan tangkap dalam waktu singkat.

Namun demikian, dalam perspektif sosial, program tersebut telah menciptakan jurang kesenjangan antarnelayan yang berujung pada kecemburuan dan konflik sosial. Selain itu, dalam perspektif ekologi, program Revolusi Biru menyebabkan kerusakan sumber daya ikan karena kegiatan penangkapan ikan dilakukan secara intensif dengan menggunakan alat tangkap yang semakin efektif dan efisien.

Penulis menyarankan beberapa hal kepada pemerintah dalam menyikapi musim paceklik di tengah hantaman perubahan iklim global tersebut, di antaranya: Pertama, pembinaan SDM nelayan melalui pelatihan kewirausahaan sebagai bentuk diversifikasi usaha, yang tentu saja kegiatan tersebut masih terkait dengan perikanan, seperti pengolahan hasil perikanan berbasis industri rumah tangga dan kerajinan tangan yang bersumber dari hewan-hewan laut. Kedua, pemberdayaan masyarakat nelayan melalui inisiasi dan pengembangan Teknologi Tepat Guna di bidang perikanan dan kelautan. Ketiga, penataan dan penguatan kelembagaan ekonomi lokal yang memosisikan nelayan sebagai subjek pembangunan perikanan dan kelautan yang dapat dipercaya.

sumber :http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/27/opi01.html


Responses

  1. Ikutan baca Koran saja deh… Tanpa berkomentar apa-apa…:mrgreen:

    • terima kasih,
      saya sedang melakukan penelitian dampak perubahan iklim terhadap kehidupan nelayan
      mohon doanya

  2. bang solihin…
    kabar sehat yach..
    bang, aku juga lage mau buat rancangan proposal riset,,
    judulnya strategi adaptasi masyarakat sektor kelautan dan perikanan terhadap perubahan iklim.
    jadi kalo emang bagus and cocok, kemungkinan sih bisa diajukan untuk riset tahun 2010.
    aku sekarang di balai besar riset sosek kelautan perikanan, BRKP.

    nah, pas liat abang lage bikin penelitian itu, ya kali aja bisa nambah informasi bang..
    thanks ya bang sol..
    salam
    rizki “asal”

  3. alhamdulilah, sejak kapan kerja di balai riset sosek ? ada patrik dong.
    abang dah bikin, proposalnya tapi kemarin gagal, mau abang ajukan lagi neh

  4. Hampir 2 bulan bang….
    Iya ada patrik kok.
    Saya udah mulai mengumpulkan banyak literatur tentang tema tsb.
    Ok bang kalo gitu, kalau bisa nanti kita ketemuan di Bogor ya….banyak yang mau ditanyakan ke Abang.

    Thank u ya bang Solihin.
    Sukses selalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: