Oleh: ikanbijak | Februari 16, 2009

Anatomi Konflik & Solidaritas Masyarakat Nelayan

Judul : Anatomi Konflik & Solidaritas Masyarakat Nelayan
Penulis : Sabian Utsman
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun Terbit : 2007

Daftar Isi
Pendahuluan
1. Latar Belakang
2. Mempertanyakan terjadinya konflik dan solidaritas
3. Tujuan dan kontribusi penelitian

Definisi dan Kerangka Pemikiran Konflik, Solidaritas, dan Pengelolaan Konflik
1. Konsep konflik
2. Konsep solidaritas
3. Konsep pengelolaan konflik
4. Kerangka pemikiran

Metode Penelitian

Pedesaan Nelayan Tradicional Pesisir Kumai
1. Karakteristik Geografis
2. Keberadaan Sarana Transportasi
3. Penerangan listrik
4. Karakteristik sosial budaya

Konflik dan Solidaritas serta Keadaan Pasca Konflik
1. Benih-benih konflik antara nelayan lokal dengan nelayan luar
2. Langkah-langkah gerakan nelayan tradisional Sakates
3. Solidaritas nelayan tradisional Sakates
4. Keadaan sosial pasca konflik
5. Penanganan konflik

Anatomi Konflik dan Solidaritas Masyarakat Nelayan Sakates
1. Karaketeristik masyarakat nelayan Sakates
2. Konflik dan solidaritas
3. Penanganan konflik

Implikasi Teoritik dan Praktik


Responses

  1. Terima kasih apresiasinya dan semoga tulisan saya bisa bermanfaat. (penulis/Sabian Utsman)

  2. iya mas, saya sangat menimati karya mas sabian utsman.

  3. sekilas info, buku saya ke-4 judul “Dasar-dasar Sosiologi Hukum” (Makna Dialog antara Hukum dan Masyarakat), 404 hlm, Penerbit Pustaka Pelajar, barusan terbit seminggu yang lalu. Cuma maklum. ada beberapa kekeliruan dalam pengetikan a.l pengetikan tentang penulis. OK. trimksh.

  4. bagus sekali bukunya.
    kebetulan saya lagi garap KIR SMA tentang nelayan.
    bolehkah saya diskusi tentang “pola adaptasi masyarakat pantai terhadap fenomena abrasi”?

    suhadi
    SMA N 1Pamotan Rembang Jawa Tengah

  5. Kenapa harus ke abrasi? lebih menarik arahkan kepada perubahan iklim saja, itu akan lebih kekinian materinya. kalau abrasi khan emang sudah kerap terjadi

  6. Pantai Sarang tempo dulu adalah area perladangan dengan jarak antara perumahan dengan laut yaitu kira-kira 50 meter. Namun sekarang bibir pantai itu tidak lagi berpasir, bibir pantai yang penuh dengan jebakan, dan indahnya ombak berubah menjadi petanda datangnya marabahaya, yaitu abrasi. Tidak ada satupun pohon mangrove yang tersisa, semua dibabat habis diganti dengan pemukiman penduduk dengan pola pemukiman di bibir pantai. Para nelayan Sarang sedang diceraikan ikan, dan ada pula yang beralih profesi sebagai penambang pasir laut dengan besar-besaran.
    Penelitian ini akan mengbarkan bagaimana cara pandang dan perilaku masyarakat pesisir dalam berinteraksi dengan fenomena abrasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui diversitas/ keanekaragaman pengetahuan tentang fenomena abrasi pada masyarakat pesisir; dan mengetahui diversitas/ keanekaragaman perilaku masyarakat pesisir dalam berinteraksi dengan fenomena abrasi. Dengan demikian penelitian ini memiliki manfaat yaitu sebagai bahan untuk tinjauan kepustakaan tentang tematik ekologi kelautan di kawasan kabuten Rembang Jawa Tengah; dan sebagai bahan diskusi para praktisi untuk merumuskan program kebijakan di kawasan pemukiman nelayan.
    Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian adalah kecamatan sarang meliputi desa kalipang, desa sarang meduro, desa bajingmeduro, desa karangmangu, desa sendangmulyo, dan desa temperak. Data penelitian yang digunakan adalah data primer dan sekunder Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentatif, observatif, dan interview. Selanjutnya teknik analisis yang pilih adalah model analisis interaktif deskriptif.
    Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebagai berikut. Nelayan di sepanjang pantai Sarang berpandangan bahwa abrasi adalah suatu hal yang biasa, lazim terjadi, dan mereka telah terbiasa akan abrasi. Abrasi disebabkan oleh adanya gelombang musiman, ombak besar, angin kencang, dan tidak adanya pengendali. Bagi mereka, abrasi merupakan sesuatu yang menakutkan dan membuat mereka gelisah. Walaupun demikian mereka tetap tinggal di bibir pantai. Dengan tinggal di bibir pantai akan mempermudah mereka dalam menjalankan pekerjaannya sebagai nelayan. Mereka berpedoman “dimana dia bekerja, di situ dia akan tinggal”, walaupun mereka berkemampuan (materi) untuk pindah rumah. Mereka juga beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki.
    Perilaku pengendalian abrasi nelayan di sepanjang pantai Sarang dapat dilihat yaitu; membuat tanggul dari karung yang di isi pasir dengan diletakkan di dekat rumah para nelayan, menumpuk karung berisi pasir di tepi-tepi pantai sebagai penahan ombak, pembuatan tanggul dari karung pasir dengan tancapan bambu-bambu sebagai penahannya, membuat tanggul dari batu-batu yang ditahan dengan tancapan bambu, membuat tanggul terbuat dari tumpukan batu besar yang dibentuk menyerupai tebing, dan membiarkan tumbuh-tumbuhan liar hidup di sekitar tepi pantai.
    Adapun saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah penting kiranya mengedepankan pemetaan tata ruang kependudukan di kawasan kantong pemukiman pesisir. Penting kiranya juga memperhatikan langkah strategis untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang ramah lingkungan, bukan sebaliknya, sebuah umpan ekonomi yang merusak lingkungan.

  7. mohon maaf, tadi saya kirim abstrak tentang abrasi di sarang. saya mohon maaf, kepada saudara imronwjy, setelah saya masukkan isi, ternyata yang diidentifikasi sebagai imroniwjy yang muncul, bukan saya sendiri, yaitu suhadi sma n 1 pamotan.

    kepada admin, mhn bantuannya.

    terimakasih

    suhadi
    sma n 1 pamotan
    pengajar sosiologi
    085226258170


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: