Oleh: ikanbijak | April 16, 2008

Pemerintah Harus Cabut Izin Trawl

Pemerintah Harus Cabut Izin Trawl
KOMPAS, SABTU, 5 APRIL 2008 | 17:54 WIB

JAKARTA, SABTU – Pemerintah harus mencabut Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan No. 06 tahun 2008 tentang legalitas penggunaan pukat hela di Kalimantan Timur. Walhi dan sejumlah peneliti pesisir dan kelautan mengatakan permen ini melanggar hukum secara formal.
Permen ini bertentangan dengan Keputusan Presiden No.39 tahun 1980 tentang pelarangan penggunaan trawl. Manager Kampanye Pesisir dan Kelautan Walhi, M Riza Damanik, mengatakan seluruh presiden, kecuali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, juga mengeluarkan kepres serupa semasa pemerintahannya.
“Ini dikeluarkan ketika trawl mulai banyak digunakan. Selain itu, pada waktu itu timbul konflik antara pelayan di Sumatera Utara. Rentetan dari Kepres No.39 tahun 1980 juga banyak. SBY belum mengeluarkan larangan trawl, tapi malah melegalkan. Pukat hela itu satu dari sembilan nama lain trawl (pukat harimau.red),” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (4/4).
Dia menambahkan pada saat ini kondisi perairan Indonesia sudah kritis. Menurut data Food and Agriculture Organization, lanjutnya, saat ini jumlah ikan yang sudah diambil di Indonesia sekitar 4,9 juta. Jumlah ini telah mendekati jumlah sumber daya ikan yang boleh diambil sebesar 5,12 juta.
“Potensi perikanan kita kan 6,4 juta dan yang boleh diambil itu 80 persennya. Berarti sebentar lagi, kita sudah mengalami krisis ikan. Ini juga diindikasikan beberapa hal, spesies ikan tertentu susah ditemui. Contohnya ikan trubut. Selain itu, harga ikan juga jadi mahal. Bagaimana nantinya kalau trawl diperbolehkan?” jelas Riza.
Peneliti Daerah Pesisir dan Kelautan Institut Pertanian Bogor, Suhana menganggap pemerintah salah langkah dengan mengeluarkan permen tersebut. Pemerintah seharusnya mengeluarkan kebijakan yang melarang pengambilan ikan secara berlebih untuk mengatasi krisis ikan ini.
“Selain itu, jika alasan pemerintah ini untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional, hal itu salah. Suatu hal yang tidak mungkin, nelayan tradisional dapat membeli satu set kapal trawl. Untuk membeli kapal 5 grosston dan tak ramah lingkungan itu perlu uang Rp50 juta. Satu paket jaring butuh dana Rp35 juta. Jadi minimal butuh dana Rp85 juta.
Nelayan tradisional kita itu hanya jadi buruh dari nelayan Malaysia dan Thailand,” ungkapnya.Padahal seorang nelayan yang malam itu juga hadir di acara diskusi Walhi mengaku berpenghasilan Rp500.000 per bulan. “Itupun tak tentu. Bisa balik modal saja sudah untung mbak,” imbuhnya.(BOB)


Responses

  1. Bagaimana tanggapan Saudara terhadap Permen Trawl No. 6 Tahun 2008 yang dikeluarkan Menteri Kelautan dan Perikanan?

  2. Saya juga bingung, kenapa ya pemerintah mengeluarkan ijin trawl, khan merusak?

  3. Kita harus melihat ijin trawl secara bijak, karena trawl alat tangkap paling efektif, jadi harus dikaji secara scientific. Untuk jelasnya saya tampilkan tanggapan saya yang akan saya kirim ke media.
    Mohon baca secara lengkapnya di kategori tulisan lepas

    Terima kasih tanggapannya.

  4. Penggunaan alat pukat harimau (trawl) sudah lama dilarang, dalam kenyataannya pelaksana aturan tidak taat dengan berkolusi dengan petugas.

    kemudian diperlonggar dengan aturan, penangakapan boleh dilakukan di zona diatas 12 mil dari pantai, tetap juga dilanggar malah kapal ikan asing ikut memanen ikan di perairan Indonesia.

    akhirnya nelayan tradisional jadi pecundang ketika berlomba mencari ikan di zona 7 mil ke pantai.

    di Sumut dengan di Kalimantan, memiliki karakter pantai dan laut yang berbeda. pantai timur sumut misalnya merupakan tempat pembijahan ikan, akhirnya saat ini persediaan ikan tidak lagi cukup karena ekosistemnya dirusak kapal ikan yang menangkaap dengan puakt harimau yang di hela dan memiliki petak jarik dibawah 5 cm.

    peduli donk dengan nelayan, SBY anak petani gak ngerti dengan nelayan. lucu juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: