Oleh: ikanbijak | April 16, 2008

24 Kapal Ikan Tidak Akan Dilepas

24 Kapal Ikan Tidak Akan Dilepas
Sinar Harapan, 15 April 2008

Timika–Pelaksana Harian (Plh) Syahbandar Pelabuhan Poumako, Timika, Samsudin Tuhutero, mengatakan 24 kapal ikan yang sampai saat ini masih ditahan di Pelabuhan Poumako, Timika, tidak akan dilepas, kecuali jika ada sinyal dari pihak penyidik. Semua dokumen kapal tetap ditahan oleh pihak Syahbandar.

Dari 24 kapal itu, dua di antaranya adalah kapal induk berbendera Taiwan, MV Huang Wend dan MV Gou Xhum-66. Samsudin yang ditemui SH di atas KM Tatamailau yang sandar di dermaga Pelabuhan Poumako, Selasa (15/4), mengungkapkan, semua surat kapal sah. Namun, yang menjadi masalah adalah pelanggaran yang dilakukan kapal tersebut ketika menangkap ikan di perairan Mimika, Papua Selatan.

Kapal-kapal itu ditahan sejak 17 Maret, dan hingga kini penyidikan dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), dan Mabes Polri. Menurut Samsudin, semua surat kapal setelah diteliti oleh Syahbandar, tidak ada masalah.
Mengenai surat-surat yang berkaitan dengan operasi penangkapan ikan, seperti SIPI, adalah wewenang penyidik. Jadi, pelanggarannya diduga penangkapan ikan. “Kalau pihak penyidik menyatakan secara tertulis, kapal-kapal bisa dilepas, kami akan segera melepaskan,” ujarnya.

Menurutnya, karena semua kapal tersebut berlabuh di areal pelabuhan, tetap akan dikenakan biaya labuh sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 14 Tahun 2000 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, dihitung per harinya nilai rupiah dikalikan GT (gross ton) tiap kapal. Contohnya, dua kapal induk penampung hasil ikan, MV Huang Wen dengan bobot 2.600 GT dan MV Gou Xhum-66 dengan 1.200 GT.

Sementara itu, menurut rilis dari TNI AL, 24 kapal ikan itu ditangkap oleh Kapal Pengawas DKP, Hiu Macan 004 yang dipimpin oleh nakoda Albert Saklil di perairan Timika, pada posisi 040 56,485’ LS – 1360 41, 194’ BT. Ada pula yang di pelabuhan umum Poumako. Di sana ditemukan 18 kapal penangkap ikan yang sedang melakukan bongkar muat ikan (transhipment) ke dua kapal pengangkut ikan berbendera Taiwan yakni MV Huang Wend dan MV Gou Xhum-66.

Di dalam MV Huang Heng terdapat 9 ton cumi-cumi yang diperoleh dari 14 kapal penangkap ikan di kolam pelabuhan umum Poumako. Perusahaan yang mengoperasikan 24 kapal tersebut, terdapat delapan perusahaan antara lain PT Patemang Raya, PT Incinrab Bahari Timur, PT Maju Bersama Jaya, PT Anugrah Mitra LS, PT Alam Segar Jaya, PT Hasuda Mina Graha, PT Sumber Bahari dan PT Atlantik Sentosa.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan kepada Kapanlagi.com belum lama ini untuk semua kapal ikan yang melanggar Undang-Undang Perikanan No. 31 Tahun 2004 dengan melakukan ekspor ikan di tengah laut (transhipment) SIPI dan SIKPI pengusaha akan dicabut. Namun, saat ini tidak cukup hanya pencabutan izin, tetapi juga proses pengadilan harus berjalan.
Lebih lanjut, Freddy Numberi menegaskan tindak kejahatan yang melibatkan 24 kapal yang 22 berbendera Indonesia tersebut, melibatkan 60% warga negara asing dan 40% warga negara Indonesia.

Dirjen Perikanan Tangkap (PT) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Ali Supardan, menegaskan di Jakarta, Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan No 6 tahun 2008 bukan untuk membuka peluang pemberian izin trawl atau pukat harimau di perairan Indonesia. Permen tersebut secara jelas hanya mengatur tentang Penggunaan Alat dan Penangkapan Ikan Pukat hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara.
“Jadi tidak ada itu (izin penggunaan trawl), tapi kalau pukat hela dibolehkan dalam Permen No. 6,” katanya menanggapi pro-kontra pemberlakuan pukat untuk menangkap ikan di perairan perbatasan RI-Malaysia. Pukat hela berbeda dengan trawl karena alat tangkap tersebut memiliki spesifikasi jaring tertentu seperti panjang jaring ataupun lebar mulut jaring.

Selain itu, pukat hela hanya digunakan pada kapal ikan berbobot kurang dari 30 GT (gross ton) serta perairan harus lebih dari 1 mil laut. Sedangkan trawl, lebih beragam ukurannya serta lebih besar dibandingkan pukat hela, begitu juga penggunaanya pada kapal penangkap ikan berbobot 60 GT, 100 GT bahkan lebih. (soehendarto)


Responses

  1. Dear Solihin,

    Perdebatan trawl saat ini sekitar ukuran kapal, panjang jaring dan penamaan. Kenapa kita suka mendebatkan hal-hal yang ngak substantif.. menurut saya, ini area kelabu yang terus memancing pemikiran/penafsiran baru, ngak akan habis pembahasannya.

    Pukat udang, setahu saya juga trawl karena prinsip kerja dan konstruksinya mirip, demikian pula dogol, cantrang, pukat cotok, arad, lampara, pukat ikan yang selama ini masih beroperasi di seluruh Indonesia… dan di legalkan.

    Definisi trawl yang baku dengan standar ukuran tertentu, sepengetahuan saya belum ada deh…. jadi untuk ukuran, sebenarnya ngak bisa dipakai sebagai justifikasi ini trawl aseli ini bukan aseli. semuanya bisa dibuat, dan dapat ditarik dengan kapal sebesar apapun.

  2. Yang lebih menarik lagi Pak, dalam Diskusi di Sinar Harapan tentang trawl kamis lalu, tercetus bahwa pukat hela adalah bukan trawl.
    Ini semakin menimbulkan pertanyaan.

    Padahal pengertian trawl dan pukat hela dibedakan oleh satu hal, yaitu ditarik oleh dua kapal menurut Turunan Keppres No. 39 Tahun 1980, sementara Permen No. 6 Tahun 2008 menyebutkan ditarik oleh satu kapal.
    Dengan demikian, DKP suka bermain-main dengan nomenklatur yang membingungkan.

    Oleh karena itu, yang harus dilakukan DKP adalah membuat satu pengertian tentang Trawl dengan spesifikasinya. Sehingga, jika nelayan-nelayan menggunakan definisi lokal, tinggal kita lihat konstruksinya sesuai dengan yang disepakati atau tidak.

    Satu hal lagi yang perlu dilakukan DKP adalah, sebelum dikeluarkan tentang aturan trawl, harus dikaji dahulu mengenai sumberdaya alamnya, lingkungannya, sosial budaya dan lain sebagainya. Selain itu, prasyarat lain yang harus diperhatikan juga adalah sistem pengawasan.

    Nah, mungkin dalam kasus pukat hela di Kaltim, DKP optimis karena sistem pengawasan bia dilakukan. namun ironinya, justifikasi ilmiahnya tidak ada.

    Bagaimana ini, bisa-bisa hancur sumberdaya ikan. Apalagi tingkat perbandingan tangkapan udang dengan ikan sudah melebihi 1 banding 10 lebih. Parah bukan…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: