Oleh: ikanbijak | Maret 18, 2008

Kandasnya Revitalisasi Perikanan

Kandasnya Revitalisasi Perikanan
Oleh : Akhmad Solihin
Dimuat : di Koran Harian Sore Sinar Harapan, 28 Oktober 2005

Ibarat permainan tinju, kenaikan harga BBM telah memukul KO (knock out) masyarakat nelayan. Sebagai masyarakat miskin dari kelompok masyarakat termiskin (poor of the poorest), nelayan tidak mempunyai bargaining position, bahkan mereka kerap dijadikan tumbal kebijakan oleh kelompok lain, termasuk oleh Pemerintah sendiri yang seharusnya melindunginya. Sejak harga BBM dinaikan itulah, episode babak belurnya nelayan akibat kenaikan BBM mulai ditayangkan di berbagai media massa, baik elektronik maupun cetak. Hal ini dicerminkan dengan berjejernya kapal-kapal penangkap ikan di pinggir pantai dan pelabuhan-pelabuhan.

Kenaikan harga BBM dirasakan nelayan sangat berat sekali. Mengingat, perikanan, khususnya usaha perikanan tangkap (marine capture fisheries) yang digeluti nelayan merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki keterkaitan sangat erat dengan kenaikan harga BBM. Hal ini disebabkan, karena by nature kegiatan perikanan tangkap sebagian besar masih dicirikan dengan sifatnya yang memburu (hunting fisheries) dengan kapal sebagai media utamanya.

Dengan demikian, biaya operasi penangkapan ikan merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan kegiatan usaha perikanan tangkap. Walaupun besarannya bervariasi menurut jenis alat tangkap, sudah dapat dipastikan usaha perikanan tangkap memiliki struktur biaya yang didominasi oleh biaya operasi, termasuk dalam konteks ini adalah biaya bahan bakar. Lebih dari itu, nelayan kerap mendapatkan harga BBM diatas harga pasar atau harga eceran tertinggi sebagaimana yang ditetapkan oleh Pemerintah. Yang menjadi pertanyaan adalah, sadarkan Pemerintah bahwa kenaikan harga BBM mempunyai andil besar dalam menciptakan kelangsungan hidup usaha masyarakat nelayan?

Dampak Kenaikan BBM

Kenaikan BBM hingga di atas 100 persen, jelas menambah beban biaya dalam struktur biaya operasional nelayan. Besarnya kenaikan biaya operasional tersebut tidak hanya disebabkan oleh mahalnya harga BBM, tapi juga oleh kebutuhan lainnya yang ikut-ikutan naik, sebagaimana teori efek domino. Seperti naiknya harga-harga bahan makanan, alat-alat tangkap, harga es untuk mengawetkan ikan dan lain sebagainya. Padahal, kenaikan harga-harga tersebut tidak selalu diiringi dengan peningkatan pendapatan hasil tangkapan yang mereka peroleh.

Seperti biasa, akibat kerasnya pukulan kenaikan harga BBM, nelayan lebih banyak memilih tidak melaut. Selain itu, sebagai upaya bertahan hidup, masyarakat nelayan kerap menjual peralatan rumah tangga dan berbagai peralatan penangkapan ikan, termasuk menjual kapal-kapal ikan. Sungguh suatu tragedi nasional bila nelayan harus menjual kapal-kapalnya, karena kapal merupakan sarana utama dalam usaha perikanan tangkap. Sekalinya melaut, mereka harus berhutang kepada para tengkulak yang digunakan untuk membeli BBM. Tentu saja, hal ini harus dibayar mahal dengan kewajiban nelayan menjual hasil tangkapannya kepada para tengkulak yang harganya di bawah harga pasar. Lengkap sudah penderitaan masyarakat nelayan. Pemerintah menekan, dan tengkulak menggerogoti.

Selain itu juga, agar nelayan tetap melaut, mereka biasanya mencampur (mengoplos) solar dengan minyak tanah yang harganya lebih murah. Namun, upaya kreatif mereka dapat membuat mesin kapal cepat rusak. Artinya, dalam jangka pendek, memang upaya kreatif mereka dapat menekan biaya operasional penangkapan ikan serendah mungkin. Namun dalam jangka panjangnya, mereka dihadapkan pada cepatnya pergantian mesin yang seharusnya belum dilakukan sesuai dengan umur teknis mesin tersebut.

Dampak lanjutan yang sekarang dirasakan oleh kalangan industri pengolah ikan akibat nelayan tidak melaut adalah menurunnya stok bahan baku produksi perikanan nasional. Apakah kita harus mengimpor bahan baku ikan dari luar karena ketidakmampuan armada tangkap nasional melakukan operasi penangkapan? Tentu saja tidak, karena itu keputusan bodoh. Oleh karena itu, Pemerintah harus segera membenahi masalah ini secara cepat dan dengan akal sehat. Mengingat, akal sehat pemerintah sekarang ini sudah hilang. Bila hal ini terabaikan, kedepannya, kenaikan BBM yang tidak rasional tersebut akan menggagalkan program revitalisasi perikanan yang terangkum dalam Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK), yang telah dicanangkan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 di Waduk Jatiluhur.

Lebih dari itu, dampak yang lebih mengkhawatirkan adalah bertambahnya angka-angka kemiskinan, karena jutaan nelayan akan membanjiri kota-kota untuk mencari pekerjaan serabutan, dari buruh pabrik hingga pengemis jalanan. Sungguh suatu jebakan kemiskinan yang mengharukan di negeri bahari yang memiliki kekayaan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan. Lagi-lagi tujuan RPPK akan kandas, karena salah satu tujuannya adalah mengurangi angka-angka kemiskinan. Selain itu, tujuan peningkatan angka produksi ikan pun akan mengalami kegagalan juga. Hal ini dikarenakan, di samping nelayan tidak bisa melaut akibat tingginya harga BBM dan harga-harga lainnya, mereka juga banyak yang beralih profesi.

Tugas Pemerintah

Dari uraian dampak kenaikan BBM di atas, nampaknya Pemerintah harus segera melakukan upaya penyelamatan di sektor perikanan, khususnya terhadap pelaku utamanya yaitu masyarakat nelayan yang senantiasa menjadi tumbal kebijakan. Tentu saja, kebijakan upaya penyelamatan tersebut harus logis dan realistis, bukannya mengeluarkan paket kebijakan kompensasi membagi-bagikan uang. Karena kebijakan kompensasi dengan membagi-bagikan uang bukanlah suatu solusi tepat, tapi lebih mencerminkan kebijakan pembodohan massal.

Menurut hemat penulis, beberapa hal yang harus dilakukan oleh Pemerintah dalam upaya penyelamatan pembangunan sektor perikanan dan penyelematan kelangsungan hidup nelayan, diantaranya, yaitu: Pertama, pemberlakuan harga khusus BBM untuk sektor perikanan. Dalam hal ini Pemerintah harus membedakan harga khusus, baik antara industri penangkapan ikan dengan industri lainnya, maupun antar pelaku perikanan itu sendiri. Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya, pembedaan harga khusus ini didasarkan pada besarnya prosentase harga BBM dalam komponen biaya usaha perikanan, khususnya biaya operasional penangkapan ikan.

Tentu saja, kebijakan harga khusus untuk sektor perikanan ini memerlukan kajian yang mendalam dan komprehensif, guna menghindarkan diri dari kecemburuan sosial baik antar pelaku ekonomi umumnya dan antar nelayan khususnya. Selain itu, pola penyalurannya pun harus jelas. Khawatirnya, harga khusus tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak berhak dan mencari keuntungan semata.

Kedua, Pemerintah harus sungguh-sungguh memberantas pungutan liar yang terjadi di darat (pelabuhan) hingga ke tengah laut yang besarannya biasanya justru lebih tinggi daripada pungutan resmi, dimana bisa mencapai 10 persen dari biaya operasional. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka kebijakan insentif pembebasan Pungutan Hasil Perikanan akan sia-sia belaka.

Ketiga, membangun sarana infrastruktur guna menopang usaha perikanan, seperti membangun Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN) agar jatah solar murah langsung ke nelayan. Sedangkan bagi SPDN yang sudah ada, penggunaannya harus diefektifkan, serta harus dilakukan pembenahan dalam sistem penyalurannya agar tepat sasaran. Selain itu, harus disediakan alat penghemat BBM, dibangunnya pabrik es mini, dan penyimpan hasil laut (cold storage). Dengan demikian, daripada Pemerintah membagi-bagikan uang, lebih baik dana kompensasi BBM digunakan untuk membangun sarana infrastruktur di wilayah pesisir dan laut yang menopang pembangunan sektor perikanan dalam mensejahterakan masyarakat nelayan. Akankah derita masyarakat nelayan pasca kenaikan BBM ini akan mendapatkan perhatian dari Pemerintah? Wallhu’alam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: