Oleh: ikanbijak | Maret 14, 2008

UNCLOS Sangat Perinci Menyikapi Pencemaran Laut

UNCLOS Sangat Perinci Menyikapi Pencemaran Laut
Oleh: AKHMAD SOLIHIN
Dimuat : Koran Harian Sore Sinar Harapan, 1 Juni 2004

Di tengah memanasnya suhu politik nasional menyongsong pemilihan presiden, kondisi sosial-ekonomi masyarakat nelayan semakin mengkhawatirkan. Beberapa bulan lalu masyarakat nelayan Jakarta didera operasi penggusuran oleh Pemda DKI Jakarta, dan menjadi semakin menderita oleh kematian ikan yang disebabkan laut yang tercemar. Semua permasalahan ini berujung pada pengangguran. Sejumlah nelayan demi survival hidup terpaksa menjadi pemulung (Sinar Harapan, 21 Mei 2004).

Sungguh suatu fenomena yang sangat mengiris hati di tengah kekayaan sumber daya laut di negeri bahari yang besar ini. Ibarat petani yang kehilangan lahannya, tercemarnya perairan laut sama dengan menghilangkan lahan tempat mencari nafkah nelayan. Akankah setumpuk permasalahan yang melilit kehidupan masyarakat nelayan ini menjadi perhatian utama dari para calon presiden yang sedang berkompetisi ini?

Masyarakat nelayan juga semakin gundah mendengar perbedaan pendapat para ahli atau lembaga terkait di bidang lingkungan hidup atas kematian ikan dan biota laut di perairan Kepulauan Seribu itu. Hal ini memunculkan pertanyaan, apakah pendapat yang dikemukakan tersebut berasal dari kajian yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara moral maupun secara ilmiah (scientific evidence) atau pendapat tersebut merupakan pembelaan diri lembaga-lembaga pemerintahan dari ketidakmampuannya dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut selama ini?

Empat Pandangan

Adapun berbagai pendapat yang berkembang di media massa perihal penyebab terjadinya kematian ikan secara massal di Teluk Jakarta sekarang ini, di antaranya: Pertama, Pusat Pe-nelitian Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa kematian massal ikan itu disebabkan oleh harmful algae bloom (HAB) atau meningkatnya populasi alga beracun, yang menyebabkan ikan-ikan kekurangan oksigen dan akhirnya mati. Munculnya HAB yang lebih dikenal dengan red tide itu tak lain adalah pencemaran.

Kedua, Biro Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta lebih jauh menyebutkan adanya kandungan tinggi fenol (0,010 mg/l), merkuri (0,056 mg/l) dan amoniak (1,06 mg/l) pada biota laut yang mati serta air laut di Teluk Jakarta. Masing-masing dari ketiga angka itu berada di atas tingkat normal batas baku mutu untuk biota laut. Ketiga, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB menyatakan bahwa kecil kemungkinan penyebab kematian ribuan ikan itu adalah limbah minyak atau logam berat. Ini didasari oleh tidak ditemukannya bekas atau tanda pencemaran minyak mentah, baik di biota yang mati maupun di perairan itu sendiri.

Keempat, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta berpendapat bahwa pencemaran di Teluk Jakarta disebabkan oleh kegiatan industri. Walhi menemukan dari lima industri yang berlokasi di pantai Ancol, tiga di antaranya memiliki saluran pembuangan yang mengarah ke laut, sehingga Walhi menduga saluran itu digunakan untuk pembuangan limbah. Dugaan Walhi diperkuat oleh informasi yang diberikan masyarakat nelayan setempat yang menyebutkan bahwa dari pipa pembuangan seringkali mengalir zat buangan yang berbau busuk dan berwarna kecoklatan, terutama di saat hujan atau air pasang.

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai sumber kematian ikan secara massal itu, lingkungan perairan laut memerlukan perhatian dan penanganan yang serius, khususnya bagi kelangsungan hidup masyarakat pengguna yang berada di wilayah pesisir dan laut. Akibat tercemarnya perairan laut, tidak hanya nelayan yang dirugikan, tetapi juga berdampak pada pedagang-pedagang ikan dan warung-warung yang menjual jasa pembakaran ikan.

Minimnya Peraturan

Di samping lemahnya penegakan hukum, kerusakan lingkungan perairan laut dihadapkan juga pada minimnya instrumen hukum dan peraturan perundang-undangan nasional yang lebih rinci dan komprehensif dalam mengatur pengelolaan wilayah pesisir dan perlindungan serta pelestarian lingkungan laut. Padahal Konvensi Hukum Laut 1982 yang lebih dikenal dengan Hukum Laut Internasional (United Nation Convention on the Law of The Sea/UNCLOS 1982) pada Bab XII sangat perinci dan komprehensif dalam mensikapi kerusakan lingkungan laut.

Hukum dan peraturan perundang-undangan nasional (municipal law) yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut masih sangat jauh dari yang diharapkan. Seperti Undang-undang (UU) No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup dan turunannya, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut.

UU No. 23 Tahun 1997 yang disebutkan “paling lengkap” itu ternyata sangat kering dan jauh dari bahasan perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Oleh karena itu, untuk lebih menciptakan kepastian dan kekuatan hukum dalam rangka mewujudkan kelestarian lingkungan di wilayah laut, maka RUU Lingkungan Hidup yang sedang dibahas dapat memuat butir-butir penting perlindungan dan pelestarian lingkungan laut sebagaimana yang dimuat dalam UNCLOS 1982.

Patut diingatkan bahwa tatkala kita telah meratifikasi UNCLOS 1982 dengan UU No. 17 Tahun 1985, berarti kita telah menyepakati isinya, sehingga kita berkewajiban menuangkan dalam peraturan dan perundang-undangan nasional. Sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, maka sudah semestinya pemerintah melakukan pengawasan dan pengelolaan secara serius, baik dengan cara membuat undang-undang yang jelas dan menegakkannya dengan sungguh-sungguh. Presiden periode 2004-2009 diharapkan memperhatikan pesan-pesan hukum masyarakat dunia ini demi kesejahteraan nasional, khususnya masyarakat nelayan dan pelestarian alam perairannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: