Oleh: ikanbijak | Maret 13, 2008

Membangun Paradigma Negara Maritim

Membangun Paradigma Negara Maritim
Oleh : Akhmad Solihin
Dimuat: Majalah Cakrawala TNI-AL RI. Edisi 371/2001

Akibat hantaman badai krisis ekonomi dan moneter dipenghujung tahun 1997, telah mengakibatkan hancurnya sistem perekonomian bangsa-bangsa di kawasan Asia. Dan yang paling parah akibat terpaan krisis tersebut adalah Indonesia. Hal ini dikarenakan perekonomian bangsa dibangun oleh utang luar negeri, perilaku spekulatatif dari para pengusaha dan kegiatan industri yang menggunakan bahan baku (suku cadang) impor serta melupakan pemanfaatan potensi sumberdaya lokal.

Lain halnya dengan Thailand, hancurnya sistem perekonomian langsung direspon dengan baik melalui pembangunan sektor-sektor yang berbasis sumberdaya lokal, seperti pertanian dan perikanan. Dan kebijakan tersebut telah telah mampu memulihkan sistem perekonomian Thailand. Sehingga, hal ini memberikan pelajaran bagi Indonesia untuk men- set up sektor-sektor yang berbasis sumberdaya alam, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan & kelautan.

Dengan demikian, untuk memulihkan (recovery) perekonomian nasional dari hantaman badai krisis tersebut, diperlukan pencarian sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mempunyai keunggulan kompetitif (competitive advantages). Dengan bertumpu pada “Resource-base industries” yang dibangun melalui penarapan IPTEK dan profesional (knowledge-based economy), semua ini untuk mewujudkan bangsa yang maju, makmur dan berkeadilan.

Salah satu sektor yang berbasis sumberdaya lokal yang sekaligus memiliki keunggulan kompetitif adalah sektor perikanan dan kelautan. Keunggulan kompetitif dari sektor ini disokong oleh keunggulan komparatif. Karena terbukti di era krisis ekonomi dan moneter, sektor ini mengalami pertumbuhan yang positif. Dimana pada waktu yang sama, sektor-sektor lain mengalami pertumbuhan negatif, khususnya sektor perindustrian yang menggunakan bahan baku (suku cadang) impor.

Artinya, tidak ada alasan lagi untuk memarginalkan atau menganaktirikan sektor perikanan dan kelautan. Dan yang lebih penting adalah dibuatnya suatu kebijakan yang mendukung (kondusif) untuk pembangunan di sektor ini. Karena, kebijakan pembangunan nasional di masa-masa sebelumnya yang terlalu menekankan pada sektor industri telah terbukti gagal dalam membangun bangsa.
Reorientasi ke Laut

Paradigma terestrial atau pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa lingkungan daratan (continental orientation) yang bersifat feodalistik sebagai produk sejarah pendudukan Kolonial Belanda (VOC) atas Indonesia telah tumbuh mengakar kuat, sehingga melemahkan pemikiran dan jiwa masyarakat Indonesia sebagai masyarakat maritim yang bersifat egaliter dan kosmopolit serta memiliki kekayaan sumberdaya laut yang melimpah.

Sementara, pimpinan tertinggi bangsa kita yang berasal dari TNI AD telah melupakan pembangunan kelautan. Hal ini terbukti dengan kurangnya pembangunan pertanahan keamanan laut atau kata lain TNI AL kurang mendapatkan fasilitas yang layak. Sehingga arah pembangunan selama ini yang terlalu menekankan pada pendayagunaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan daratan (continental orientation) telah mengakibatkan hancurnya bebarapa sumberdaya alam di darat. Sementara itu, berhembusnya angin reformasi dengan menempatkan Gusdur sebagai Presiden RI ke-4 telah membuka mata anak bangsa mengenai kekayaan sumberdaya laut yang selama ini menjai “anak tiri” dengan didirikannya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), keberadaan departemen ini untuk mengibarkan bendera maritim yang selama ini terlupakan dan termarginalkan.

Untuk mengoptimalkan peran maritim dalam kehidupan negara, menurut Sarwono Kusumaatmadja diperlukan suatu perubahan paradigma kehidupan negara menuju suatu negara maritim dengan alasan sebagai berikut, Pertama kewilayah. Indonesia dengan dua pertiga luas wilayahnnya merupakan lautan telah menempatkan sebagai negara maritim terbesar di dunia yang ditaburi oleh ribuan pulau serta memiliki panjang pantai terpanjang kedua di dunia setalah Kanada yaitu 18.000 km.

Kedua sumberdaya alam. Pembangunan pesisir dan laut yang memiliki potensi sumberdaya dengan tingkat keanekaragaman hayati terbesar di dunia (mega bio-diversity) berpeluang untuk dikembangkan dan menjadi sektor unggulan (leading sector) dalam menyokong kegiatan pembangunan nasional. Pembangunan tersebut meliputi : (1) sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resourches) termasuk ikan, udang, kerang-kerangan, kepiting, moluska, rumput laut, hutan manrove, hewan karang dan biota laut lainnya; (2) sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resourches) seperti minyak bumi dan gas termasuk barang-barang tambang lainnya; (3) energi kelautan seperti pasang-surut, angin, gelombang dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion), dan (4) jasa-jasa lingkungan (environmental service) termasuk dalam hal ini kegiatan transportasi dan komunikasi lewat laut serta pariwisata.

Akan tetapi, kontribusi sektor perikanan dan kelautan Indonesia baru mencapai 22%, merupakan suatu nilai yang sangat mengenaskan sekali. Karena hal ini tidak sesuai dengan wilayah laut Indonesia yang begitu luas. Bila dibandingkan dengan RRC yang memiliki luas wilayah laut yang jauh lebih kecil, sektor kelautannya telah menyumbangkan nilai ekonomi sekitar 48% (Dahuri, 2001).

Ketiga sejarah. Secara historis sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), nenek moyang kita telah memiliki a\rmada laut yang kuat (sea power) dari niaga hingga angkatan perang dan berjaya pada masa Majapahit, Sriwijaya, ternate dan Tidore dengan jiwa bahari yang melekat kental, memiliki budaya yang lebih kosmopolit, terbuka, terintegrasi dan outward looking. Hal ini berbeda dengan pemikiran daratan atau terestrial yang terlalu berfikir sempit (inward looking).

Tantangan dan Peluang

Dalam menyongsong abad 21 yang penuh tantangan sekaligus peluang, sektor perikanan dan kelautan diharapkan menjadi sektor andalan dalam menyokong pembangunan perekonomian bangsa yang lagi “pailit”. Namun untuk merealisasikan hal tersebut pembangunan perikanan dihadapkan pada beberapa tantangan diantaranya adalah perdagangan bebas.

Perdagangan bebas yang dihembuskan oleh kaum kapitalis negara-negara maju (negara barat) ibarat pedang bermata dua (double-edged swords). Di satu sisi menyimpan peluang (opportunities) karena penurunan hambatan tarif dan non tarif yang selama ini menjegal produk pertanian dan perikanan dari negara-negara berkembang (developing countries), seperti asia dan Afrika ke pasar internasional. Namun, di sisi lain perdagangan bebas menjadi ancaman (treath), karena perdagangan bebas merupakan media baru penyaluran hegemoni ekonomi-politik negara maju (core) atas negara setengah maju (semi peryphery) dan negara sedang berkembang (peryphery), seperti pemaksaan penghapusan subsidi dan melakukan proteksi produk.

Dengan demikian pelaksanan perdagangan memiliki dampak yang lebih kompleks, sehingga kegiatan pembangunan perikanan ke depan harus dilaksanakan secara koordinatif dari petani ikan/nelayan hingga pemerintahan. Hal ini guna mengantisipasi dan mensiasati isu perdagangan internasional, yaitu isu kualitas (ISO 9000), isu lingkungan (ISO 14000), isu property right, isu responsible fisheries, precauteonary approach, isu hak asasi manusia (HAM) dan isu ketenagakerjaan.

Sementara peluang membangun bangsa melalui pendayagunaan sektor perikanan dan kelautan sangat besar. Karena kebutuhan terhadap bahan pangan baik naional (domestik) maupun internasional (global) akan selalu meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang kian membengkak, di samping telah hancurnya sumberdaya-sumberdaya yang ada di daratan.

Hal ini memberikan peluang harapan yang besar bagi stake holders (pihak terkait) masyarakat perikanan dari pemerintah selaku policy maker hingga masyarakat bawah (grass roots) yaitu petani ikan/nelayan untuk selalu melakukan pencarian (eksplotrasi) dan pemanfaatan (eksploitasi) sumber bahan pangan baru yang memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi dan berprotein tinggi dengan biaya relatif murah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: